Keluarga Abdul Muthalib

Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam berasal dari keluarga terhormat bani Hasyim dari orang tua yang bernama Abdullah bin Abdul Muthalib dan ibunya Aminah bintu Wahb dari Bani Zuhrah. Demikian juga sekilas kisah Abdul Mutholib dan perannya dalam msyarakat Quraisy, khususnya dalam perang gajah. Maka pada kesempatan ini dipaparkan sekilas tentang keluarganya yang memiliki hubungan langsung dengan kelahiran nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam.

Anak-anak Abdul Muthalib

Abdul Muthalib seorang tokoh terkemuka Quraisy dari bani Hasyim memiliki beberapa putra dan putri, diantaranya:

  1. Al Haarits bin Abdul Muthalib, anak tertua beliau dan wafat dimasa hidup Abdul Muthalib. Dari anak-anak Al Harits yang masuk Islam adalah Ubaidah terbunuh di parang badar, Rabi’ah, Abu Sufyaan dan Abdullah.
  2. Az Zubair bin Abdul Muthalib, saudara kandung Abdullah (ayahanda Rasulullah), ia adalah penglima bani Hasyim dan bani Al Muthalib dalam perang Fijaar, seorang terhormat dan penyair, namun tidak menjumpai masa-masa Islam. Diantara anaknya yang masuk Islam adalah Abdullah terbunuh dalam perang Ajnadain, Dhuba’ah, Majl, Shafiyah dan ‘Atikah.
  3. Hamzah bin Abdul Muthalib, paman sekaligus saudara sesusuan Rasulullah yang masuk Islam dan menjadi pahlawan islam di perang Badar dan Uhud. Beliau terbunuh syahid di perang Uhud.
  4. Al Abaas bin Abdul Muthalib, yang masuk islam dan menjadi pembela Rasulullah dalam memperjuangkan Islam. Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum perang gajah dan meninggal tahun 32 H dalam usia 86 tahun.
  5. Abu Lahab bin Abdul Muthalib, musuh besar dan penentang keras dakwah Rasululloh, sampai Allah turunkan firmanNya: Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. (QS. 111:1-4) Ia mati setelah perang Badar. Diantara putra-putranya ‘Utaibah yang mati diterkam binatang buas, Utbah dan Mu’tib keduanya masuk islam pada hari penaklukan kota Makkah.
  6. Abu Thalib Abdul Manaf bin Abdul Muthalib, paman Nabi yang memelihara dan membela beliau dalam penyebaran dakwah Islam, namun tidak mau masuk islam lantaran takut dicela kaumnya.
  7. Al Baidha’ Ummu Hakiem bintu Abdul Muthalib, yang menikah dengan Kurz bin Rabi’ah bin Habieb bin Abdus Syams. Ia memiliki dua anak yang bernma Amir dan Arwa’, lalu Arwa ini menikah dengan Affaan bin Abu Al ‘Ash dan melahirkan Utsman bin Affan khalifah Rasyidin yang ketiga. Arwa’ ibunya Utsman bin Affaan ini hidup sampai masa kekhilafahan anaknya.
  8. Barrah binti Abdul Muthalib, ibu sahabat Abu Salamah bin Abdul Aswad Al Makhzumi
  9. Shafiyah bintu Abdul Muthalib, ibu sahabat Al Zubair bin Al Awaam, beliau menikah pertama kali dengan Al Haarits bin Harb, lalu ditinggal mati dan menikah lagi dengan Al ‘Awam dan melahirkan Al Zubair. Beliau masuk islam dan ikut berhijrah. Beliau wafat tahun 20 H di Madinah dan dimakamkan di Baqi’
  10. Arwa’, ibu dari keluarga Jahsy yang memiliki anak-anak diantaranya: Abdullah, Abu Ahmad, Ubaidillah, Zainab dan Hamnah.
  11. Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Demikianlah anak-anak Abdul Muthalib yang disebutkan para ulama sejarah islam.

Pernikahan Abdullah dan Aminah

Sudah menjadi ketetapan sejarah, bahwa Abdullah bin Abdul Muthalib menikahi Aminah bintu Wahb wanita Bani Zuhrah. Bani Zuhrah masih termasuk kerabat bani Hasyim, bahkan Abdul Muthalib juga menikahi salah seorang wanita Bani Zuhrah yaitu Haalah bintu Wuhaib dan Wuhaib paman Aminah pun dipelihara di rumah Abdul Muthalib. Tidak ada penukilan sejarah peroncian pernikahan Abdullah ini yang dapat dijadikan sandaran sejarah, sedangkan riwayat yang menjelaskan perincian kisah pernikahannya semuanya lemah dan tidak dapat dijadikan sandaran sama sekali.[1]

Abdullah Wafat

Abdullah sakit dan wafat serta dikuburkan di kota Madinah ditempat keluarga neneknya Bani Adi bin Najaar, ketika melakukan perjalanan pulang berdagang dikota Madinah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits mursal dari Imam Al Zuhri yang menyatakan:

?????? ????? ?????????? ?????? ????? ???? ?????? ???????????? ????????? ??????? ???? ?????????? ?????????? ?????? ????? ????? ?? ???????? ??????? ???????? ????? ?????? ???? ?????? ?????? ????????????

Abdul Muthalib mengutus Abdullah membeli kurma di Yatsrieb (Madinah), lalu ia meninggal disana, lalu Aminah melahirkan Rasulullah lalu beliau dipelihara Abdul Muthalib.

Riwayat diatas lemah dari sisi sanad periwayatan karena riwayat mursal Az Zuhri, namun ini sama dengan hadits yang diriwayatkan Qais bin Makhramah seorang sahabat Nabi ketika mengisahkan kelahiran Rasulullah dalam pernyataan beliau:

????????? ???????? ?? ??????? ??????? ????
Bapak beliau meninggal dunia dalam keadaan ibunya mengandung beliau (Rasulullah).[2]

Demikianlah pendapat ulama yang dirajihkan Ibnu Ishaaq dan Ibnu Sa’ad dan inilah yang masyhur. Dengan demikian hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya):

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. (QS. Ad Dhuha: 6)

Semoga bermanfaat.

http://ustadzkholid.com/sejarah-islam/keluarga-abdul-muthalib/

Kategori:Uncategorized

Kisah Persusuan Rasulullah SAW

Di Pedalaman Bani Sa’ad

Sudah menjadi adat kebiasaan wanita Arab perkotaan mencari ibu susuan bagi anak bayinya dan wanita yang mengasuhnya di daerah pedalaman. Hal ini dilakukan sebagai usaha preventif menjauhkan anak-anak tersebut dari penyakit-penyakit yang biasa menjalar di perkotaan dan memperkuat dan memperkokoh kekuatan tubuh mereka. Juga sebagai usaha membiasakan dan membina mereka untuk memiliki sikap kemandirian dan percaya diri sejak kecil dan meluruskan lisan mereka dari kesalahan berbahasa sehingga mereka menjadi orang Arab yang fasih. Demikian juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah disusukan Tsuwaibah beberapa hari lamanya maka Aminah pun mencari ibu susuan bagi beliau yang dapat membawa beliau ke pedalaman dan mendapatkan Halimah bintu Abu Dzu’aib Al Sa’diyah dari bani Sa’ad. Halimah As Sa’diyah mengisahkan persusuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini dalam satu riwayat yang diriwayatkan ibnu Ishaq dan disampaikan Ibnu Hisyam dalam tahdzibnya, namun riwayat ini dilemahkan Syeikh Al Albani. Walaupun demikian persusuan beliau kepada Halimah merupakan satu hal yang benar adanya.

Ringkasan kisah tersebut adalah:

“Halimah mendatangi kota Makkah bersama para wanita dari bani Sa’d bin Bakr mencari anak susuan. Dalam tahun peceklik dan kekurangan ia berangkat mengendarai onta betina yang sudah lemah bersama suami dan bayinya serta disertai seekor onta tua untuk diperas susunya. Ia menyatakan: “Demi Allah kami tidak tidur malam itu seluruhnya bersama bayi kami tersebut, Kami tidak mendapati air susu yang mencukupi dan tidak juga ada pada ontaku makanan yang dapat dimakan”, lalu sampai rombongannya kekota Makkah, mencari anak susuan. Ia menyatakan kembali: “Demi Allah aku tahu seluruh wanita dalam rombongan kami telah ditawari Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan ketika tahu ia seorang anak yatim, maka mereka tidak mau. Kami beranggapan bahwa apa yang dapat diberikan ibunya kepada kami, kami melakukan ini hanya karena mengharap pemberian dari bapak bayi, adapun ibunya apa yang bisa ia perbuat? Demi Allah seluruh wanita rombongan kami, telah mendapat anak susuan kecuali aku. Ketika aku tidak mendapatkan yang lainnya maka aku berkata kepada suamiku Al Haarits bin Abdiluzaa: “Demi Allah aku tidak ingin kembali tanpa membawa anak susuan, akan aku kembali kepada bayi tersebut dan mengambilnya”. Maka suamikupun mengizinkannya. Demi Allah aku mangambilnya hanya karena tidak mendapatkan yang lainnya.

Lalu Halimah membawa Muhammad ke kendaraannya untuk pulang dan iapun menyusuinya seketika itu air susuku menjadi banyak dan diminumnya sampai kenyang demikian juga anakku. Sedangkan suamiku mengambil onta tua milik kami dan ternyata onta tersebut mengeluarkan susu yang dapat diperas untuk aku dan suamiku minum sampai kenyang sehingga kami bias tidur nyenyak malam tersebut. Suamiku berkata: “Wahai Halimah, demi Allah aku melihat engkau telah mengambil anak yang penuh barokah, bukankah engkau lihat kebaikan yang menyelimuti kita malam ini setelah kita mengambilnya?”, Demikianlah Allah terus memberikan kebaikan kepada kami sampai kami keluar untuk pulang kekampung kami. Halimah berkata: “Demi Allah onta betina yang kami kendarai dapat berjalan kencang meninggalkan yang lainnya sampai-sampai teman-temanku menyatakan: Wahai anak permpuan Abu Dzu’aib apakah ini adalah onta betina yang kami gunakan ketika pergi bersama kami? Saya menjawab: Ya, demi Allah. Sampai kemudian kami tiba diperkampungan bani Sa’ad”.

Diperkampungan Bani Sa’ad

Halimah menceritakan bahwa tanah bani Sa’ad sangat gersang sekali, namun kambing-kambingnya keluar dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang dan penuh susunya sehingga ia dapat memerasnya sesuka hati, beda dengan kambing-kambing lainnya yang kelaparan dan tidak mengeluarkan susu sedikitpun, sampai-sampai orang-orang berkata: lihatlah dimana kambing bintu Abu Dzu’aib digembalakan, maka gembalakanlah bersamanya! Lalu merekapun menggembalakan kambing-kambingnya ditempat kambing Halimah di gembalakan, namun mereka pulang dengan membawa kambing yang kelaparan dan tidak dapat diperas susunya. Barokah ini terus berlanjut sampai Muhammad berusia dua tahun dan tumbuh cepat tidak seperti anak-anak biasanya. Kemudian setelah dua tahun Halimah membawa kembali Muhammad kekota Makkah dan ketika bertemu ibunya, Halimah menyampaikan kepada ibundanya, Biarlah ia tetap bersama kami tahun ini, karena kami khawatir terkena penyakit di kota Makkah. Halimah terus meminta sampai ibunda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyetujuinya. (Diringkas dari kitab As Siroh An Nabawiyah karya Muhammad Abdulqadir, Dar Al Furqan, hal 103-105)

Faedah kisah ini:

1. Adanya barokah anak susuan (Muhammad) bagi Halimah

2. Hikmah barokah ini adalah agar keluarga Halimah mencintai, menyayangi dan mendidik serta memeliharanya dengan baik. Demikianlah Halimah sangat menyayanginya melebihi anak-anaknya.

3. Yang terbaik adalah yang telah ditetapkan Allah.

4. Diantara pengaruh tinggalnya beliau di pedalaman ini adalah:

a. Pendidikan hidup sederhana tanpa kemewahan dan berlebih-lebihan
b. Memperoleh fisik yang kuat
c. Memperoleh kemampuan berbahasa yang fasih dan baik
d. Mendidik keberanian dan kesabaran beliau
e. Mendidik kemandirian dan percaya diri pada beliau yang tinggi.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat.

Penulis: Kholid Syamhudi Lc

Kategori:Uncategorized

Kelahiran Rasulullah SAW

Setelah Abdulah bin Abdil Mutholib meninggal dunia di kota Madinah dan meninggalkan Aminah dalam keadaan hamil mengandung Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka diriwayatkan adanya beberapa beberapa peristiwa ajaib yang dialaminya sebelum dan ketika kelahiran beliau, namun banyak sekali yang tidak shohih periwayatannya. Diantara riwayat yang tidak shohih dalam berita tentang hal tersebut adalah:

1. Riwayat yang menyatakan bahwa ibu beliau tidak merasa berat dalam mengandung beliau.

2. Riwayat yang menyatakan bahwa ibunya mengenakan jimat dari besi lalu putus.

3. Riwayat yang menyatakan bahwa ibunya mendapat wangsit dalam mimpi akan ketinggian kedudukan beliau dan diperintahkan memberi nama beliau dengan nama Muhammad.

4. Riwayat yang menyatakan bahwa beliau lahir dalam keadaan bersandar kepada kedua tangan beliau dan menengadah kepalanya kearah langit.

5. Riwayat yang menyatakan bahwa bersama kelahiran beliau sepuluh balkon istana kisra runtuh dan api yang disembah orang majusi padam serta beberapa gereja disekitar daerah Buhairoh runtuh setelah ambles kedalam tanah. (Lihat: keterangan jelas tentang riwayat ini dalam kitab Al Sirah Al Shohihah karya DR. Akram Dhiya’ Al Umari 1/99-101).

Semua riwayat diatas diriwayatkan dengan jalur periwayatan yang sangat lemah sekali, sehingga tidak dapat dijadikan sandaran kuat untuk menetapkan kejadian tersebut. Adapun riwayat yang dapat dijadikan sandaran mengenai peristiwa sebelum kelahiran beliau yang menimpa ibunya adalah kisah yang diriwayatkan Ibnu Sa’ad, bahwa ibunda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Saya melihat ketika akan melahirkan bayiku cahaya yang keluar dari kemaluanku menyinari istana-istana Busyra’ di negeri Syam. (Kisah ini diriwayatkan dengan sanad hasan, lihat Al Sirah Al Shohihah 1/101).

Waktu kelahiran beliau

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada hari senin, sebagaimana beliau jelaskan sendiri dalam sabdanya:

???????? ???? ?????? ?????? ???????????? ????? ????? ?????? ???????? ????? ???????? ????????

Dan beliau ditanya tentang puasa hari senin, lalu menjawab: itu adalah hari kelahiranku dan hari diutusnya aku (menjadi nabi).HR Muslim.

Dan tepat di tahun gajah , sebagaimana ditunjukkan oleh pernyataan Qais bin Makhramah :

???????? ????? ????????? ??????? ?????? ????? ???????? ????????? ????? ???????? ???????? ??????? ????????? ????????? ????????

Aku dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lahir di tahun gajah sehingga kami Liddaan, kami lahir dalam satu waktu yang sama. HR Ahmad

Sedangkan tanggal dan bulannya masih diperselisihkan para ulama, diantara mereka ada yang merojihkan tanggal 9 Rabi’ul Awal diantaranya Al Mubarakfuri dan Mahmud Basya al Falaki dan mensetarakan dengan tanggal 20 atau 22 April 571 M dan ada yang menyatakan tanggal 10 dan 12 Rabui’ul Awal. Sedangkan yang masyhur dikalangan kaum muslimin adalah tanggal 12 Rabi’ul Awal dan ini pendapat Ibnu Ishaaq.

Sambutan Sang Kakek atas kelahiran cucu laki-lakinya

Demikianlah kelahiran beliau ditunggu keluarga dan kerabatnya, sehingga setelah Aminah melahirkan maka diutuslah seseorang memberitahukan kabar gembira ini kepada Abdul Mutholib kakek beliau. Tentunya Abdul Mutholib datang dalam keadaan berbahagia kemudian membawanya keka’bah seraya berdo’a dan bersyukur. Lalu memberi nama Muhammad, nama yang tidak dikenal dan popular dikalangan bangsa Quraisy. Ia ketika ditanya tentang sebab tidak sukanya beliau menamakan bayi tersebut dengan nama-nama keluarga dan kerabatnya maka ia menjawab bahwa ia ingin Allah memuji bayi tersebut dilangit dan orang-orang memujinya juga di permukaan bumi ini. Demikianlah sambutan kakek beliau dengan kelahiran ini. Kemudian kakeknya mengkhitannya dihari ketujuh beliau setelah kelahiran beliau sebagaimana umumnya adat kebiasan bangsa Arab waktu itu.dan menyiapkan pesta makanan untuk mensyukuri kelahiran di hari tersebut.
Memang ada sebagian ulama siroh yang menyatakan bahwa beliau lahir sudah dalam keadaan dikhitan, bahkan sebagian ulam besar seperti imam Adz Dzahabi menguatkan pendapat ini, namun riwayat yang menjadi sandaran mereka sangat lemah sekali sedangkan kebahagian kakek beliau Abdul Mutholib atas kelahiran cucu laki-lakinya dan apa yang ia lakukan seperti mengkhitan, mangadakan walimah makan-makan seperti adat kebiasaan kaumnya tidak butuh dalil keabsahannya, sebab itulah adat yang berkembang ketika itu. Sehingga mengambil pendapat yang menyatakan kakeknyalah yang memberi nama, mengkhitan dan mengadakan walimah makan-makan tersebut lebih pas dan kuat. Wallahu A’lam.

Ibu Susuan beliau

Kemudian setelah itu beliau disusui oleh Tsuwaibah budak perempuan paman beliau Abu Lahab yang sedang menyusui anaknya yang bernama Masruuh dan sebelumnya Tsuwaibah ini juga pernah menyusukan paman beliau Hamzah bin Abdul  Mutholib serta menyusukan Abu Salamah bin Abdulasad Al makhzumie setelah menyusukan beliau. Sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki saudara sesusuan melalui Tsuwaibah ini Pamannya Hamzah bin Abdul Mutholib dan sahabat beliau Abu Salamah bin Abdilaswad Al makhzumi yang juga masih saudara sepupu beliau, sebab ibu Abu Salamah ini adalah bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Barrah bin Abdil Mutholib.
Kisah tentang Tsuwaibah ini dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahihnya dengan lafadz:

???? ???? ????????? ?????? ????? ????????? ???????? ??????? ??? ??????? ??????? ??????? ??????? ?????? ????? ????????? ??????? ?????????????? ?????? ???????? ?????? ?????? ???? ???????????? ????????? ???? ?????????? ??? ?????? ??????? ??????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ?????? ??? ??????? ??? ?????? ???????? ????????? ??????? ??????? ???? ???????? ?????? ????? ???????? ????? ?????? ????? ???????? ?????? ?????? ??????? ???? ???????? ???? ?????? ?????????? ??? ??????? ??? ??????? ??? ???????? ????????? ????? ???? ???????????? ????????????? ??????? ???????? ?????????? ????? ?????????? ??????? ???????????? ????? ?????????????? ????? ???????? ??????????? ????????? ??????? ?????? ????? ????? ?????? ??????????? ???????????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ?????????

Dari Ummu Habibah bintu Abu Sufyan beliau berkata: saya berkata: Wahai Rasulullah nikahilah saudari saya putri Abu Sufyaan lalu beliau menjawab: apakah kamu menyukai hal itu? Ia menjawab: Ya, sayakan tidak sendirian menjadi istrimu dan saya ingin saudariku tersebut juga merasakan bersama saya dalam kebaikan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Sesungguhnya itu tidak halal bagiku, lalu saya berkata lagi: sesunguhnya telah sampai kepada kami bahwa engkau ingin menikahi putri Abu Salamah, Rasulullah menyatakan: Putrinya Ummu Salamah? Saya menjawab: Ya, , maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata lagi: seandainya ia bukan anak istriku yang dalam pangkuanku maka iapun tidak halal bagiku, karena ia adalah anak saudaraku sepersusuan. Tsuwaibah telah menyusukan aku dan Abu Salamah, maka janganlah kamu tawari aku dengan anak-anak kalian dan tidak juga saudari-saudari kalian. Urwah bin Zubair (perawi hadits) berkata: Tsuwaibah adalah budak perempuan Abu Lahab yang dimerdekakan, lalu menyusukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (HR Al Bukhari)

Dijelaskan Al Hafiz Ibnu hajar rahimahullah dalam Fathul Bari bahwa putri Abu Sufyaan tersebut namanya Urwah.

Demikian kisah kelahirannya dan bersambung dengan kisah beliau dengan Halimah Al Sa’diyah Insya Allah.

Penulis: Kholid Syamhudi Lc

Kategori:Uncategorized

Mengenal Masjidil Haram

Sejarah Pembangunan Ka’bah dan Masjid Al Haram

Bicara kota Makkah tidak lepas dari dua tempat suci nan istimewa yaitu Ka’bah dan Masjid al-Haram. Tidaklah lengkap bicara sejarah kota Makkah tanpa bicara sejarah pembangunan Ka’bah dan Masjid al-Haram.

Pembangunan Ka’bah

Ka’bah merupakan tempat tertinggi dan terhormat bagi kaum muslimin baik kaya atau miskin, pribadi atau masyarakat dan dimana saja mereka berada sehingga sepanjang sejarah Islam ka’bah inni terpelihara kesucciaan dan kehormataannya dan tetap menjadi pusat perhatian para pelayannya. Adapun riwayat-riwayat dalam buku-buku sejarah dan siroh yang mengungkap tentang pembangunan dan pemeliharaan ka’bah walaupun sebagian riwayat-riwayat tersebut tidak otentik ditinjau dari sudut periwayatannya telah memberikan penjelasan bahwa telah terjadi beberapa kali pembangunan dan pendirian ka’bah, yaitu:

1. Pembangunan dan pemeliharaan para malaikat sebagaimana yang diriwayatkan Al Azrooqy. (Lihat: Akhbaru Makkah 1/2 dan lihat As Suhaily dalam Raudhul Unfi 1/222-223 dan Ibnu Hajar dalam Fathul Baari13/144 serta Al Baihaqy dalam Ad Dalail 2/44)

2. Pembangunan dan pemeliharaan adam sebagaimana yang diriwayatkan Al Baihaqy dan yang lainnya. (lihat Fathul Bari 13/144)

3. Pembangunan dan pemeliharaan anak-anak adam sebagaimana yang diriwayatkan Al Azrooqy dan yang lainnya dari Wahb bin Munabih,dan menurut As Suhaily yang membangun adalah Syiets bin Adam. (Lihat: Akhbar Makah 1/8, Assiroh Asy Syamiyah 1/172 dan Raudhu Unfi 1/221Bidayah wan Nihayah 1/178)

4. Pembangunan dan pemeliharaan Ibrohim dan anaknya Ismail. Hal ini dijelaskan AlQur’an dan hadits-hadits bahkan riwayat-riwayat tersebut menjelaskan bahwa Ibrohim dan Ismail lah orang pertama yang mendirikan dan membangun ka’bah walaupun tempat ka’bah yaitu satu dataran yang tinggi lagi menonjol dari sekitarnya telah dikenal para malaikat dan para Nabi sebelum Ibrohim dan dia adalah tempat yang ditinggikan dan diagungkan dari zaman terdahulu sampai datangnya Ibrohim dan membangun pondasi serta bangunannya bersama anaknya Ismail. Adapun riwayat-riwayat yang menjelaskan bahwa ka’bah telah diabngun sebelumnya hampir semuanya mauquf kepada para shohabat atau tabi’in dan hanya diriwayatkan oleh ahli sejarah dan siroh seperti Al Azroqy, Al Fakihany dan sebagian ahli tafsir dan ahli hadits yang mereka itu tidak berpegang teguh dalam meriwayatkannya syarat-syarat keotentikannya,sehingga berkata Ibnu Katsir setelah memastikan bahwa Ibrohim dan Ismail lah orang pertama yang membangun ka’bah: ”Dan tidak ada stupun khobar (riwayat) yang absah (otentik) dari Al Ma’shum (Nabi) yang menjelaskan baahwa ka’bah telah dibangun sebelum Al Kholil (Ibrohim)” . (Lihat: Bidayah wan Nihayah 1/178)
Berkata Abu Syuhbah setelah merajihkan pendapat Ibnu Katsir rahimahullah :

”Tidaklah apa yang telah kami rajihkan dan ambil sebagai pendapat kami bertentangan dengan riwayat yang mengatakan bahwa tidak ada seorang Nabi pun kecuali telah berhaji ke baitullah (Ka’bah)” dan riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dengan sanad kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

“Rasulullah telah berhaji, ketika sampai di wadi asfaan,beliau berkata:”Wahai abu bakar, wadi apa ini? Berkata Abu Bakar:”Ini adalah wadi asfaan kemudian beliua berkata:”Sungguh telah melewati wadi ini nuh, hud dan ibrahim diatas onta-onta merah mereka yang dikendalikan dengan tali kekang dan sarung-sarung mereka dari Aba’ dan selendang-selendang mereka dari nimaar berhaji ke Al Bait Al Atiiq (ka’bah)”.
Dan apa yang telah dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dengan sanad kepada Ibnu Abbas beliau berkata:
“Ketika Rasulullah melewati wadi asfaan saat beliau berhaji beliau berkata:”Wahai abu bakar wadi apa ini? Berkata Abu Bakar: ”Ini adalah wadi asfaan” kemudian beliau berkata: ”Sungguh telah melewati wadi ini hud dan soleh diatas onta-onta merah mereka yang dikendalikan dengan tali kekang dan sarung-sarung mereka dari Aba’ dan selendang-selendang mereka dari nimaar bertalbiah dan berhaji ke Al Bait Al Atiiq (ka’bah)” Karena maksudnya adalah berhaji ketempat nya walaupun belum ada disana bangunannya.

5. Pembangunan bangsa amaaliq dan jurhum sebagaimana yang dinukil oleh As Syami dari riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ishaq bin Rahuyah dalam musnadnya, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Al Baihaqy dalam Ad Dalail dari Ali. (lihat Subul Huda wa Rasyad 1/172)
Berkata As Suhaily: ”Dan disebutkan bahwa ka’bah dibangun dizaman jurhum sekali atau dua kali karena banjir yang telah menghancurkan tembaok ka’bah,dan itu bukan termasuk pembangunanya akan tetapi itu hanyalah perbaikan (pemugaran) dari sesuatu yang ada” (Lihat: Raudhu Unfi 1/222)

6. Pembangunan Qushay bin Kilaab, berkata Aas Saamy: ”Hal itu dinukil olehAz Zubair bin Bakaar dalam kitab An Nasab dan ditegaskan hal itu oleh Abu Ishaaq Al Mawardy dalam Al Ahkaam As Sulthoniyah”. (Lihat: Subul huda war rosyad 1/192)

7. Pembangunan bangsa Qurays dan tentang hal ini akan dijelaskan secara khusus kemudian.

8.Pembangunan Abdullah bin Az Zubair, sebagaimana diriwayatkan oleh Syaeikhon. (Lihat: Subul huda war rosyad 1/192)

Ketika Ibnu Az Zubair menetapkan rencana pembangunan kembali ka’bah yang sesuai dengan asas dan bentuk yang telah dibangun Ibrohim dan Ismail sebelum adanya perubahan dari kaum Quraisy, maka beliau sampaikan kepada kaum muslimin yang akhirnya disetujui dan kaum muslimin langsung ikut serta dalam menghancurkan bangunan ka’bah yang ada sampai rata dengan tanah lalu mereka mencari asas pondasi bangunan ka’bah yang dibangun oleh ibrohim setelah menemuinya maka mereka menegakkan tiang-tiang disekitarnya dan menutupinya dengan penutup dan mulailah mereka membangun dan meninggikan bangunan ka’bah bersama-sama serta menambah tiga hasta yang telah dikurangi kaum quraisy dan menambah tinggi ka’bah sepuluh hasta lalu membuat dua pintu dari arah timur dan barat satu untuk masuk dan yang lain untuk keluar. Hal itu sesuai dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Syaikhan ( Bukhari dan Muslim), yang berbunyi:

?? ????? ???? ?? ???? ????? ??? ??????? ????? ?????? ???? ?????? ??? ?? ???? ??? ? ?????? ?????? ? ???? ?? ???? ????? ? ???? ????? ????? ?? ???? ???????

Wahai Aisyah kalau bukan karena kaummu baru lepas dari kejahiliyahan sungguh aku perintahkan untuk membangun ka’bah lalu dihancurkan dan aku masukkan padanya apa yang telah dikeluarkan darinya dan aku akan rendahkan (tempelkan pintunya) dengan tanah serta aku buatkan pintu timur dan barat dan aku sesuaikan dengan asas pondasi Ibrohim.

Kemudian Al Azraqy dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Ibrohim membangun ka’bah dengan tinggi 9 hasta, panjang 32 hasta dan lebar 22 hasta tanpa atap penutup.sedang As Suhaily mengisahkan bahwa tinggi ka’bah adalah 9 hasta dari zaman Ismail, lalu ketika dibangun quraisy sebelum islam ditambah 9 hasta, maka menjadi 18 hasta lalu mereka meninggikan pintunya dari tanah sehingga tidak naik kecuali dengan tangga, kemudian ketikaa dibangun oleh Ibnu Az Zubair maka dia menambah 9 hasta sehingga menjadi 27 hasta dan ini masih sampai sekarang. (Lihat:  Tarikh Makkah 1/64, dan Raudhul Unfi 1/221)

10. Pembangunan Al Hajaaj bin Yusuf Ats Tsaqafy atas perintah Kholifah Abdul Malik bin Marwan Al Umawy, sebagimana diriwayatkan oleh Imam Muslim (2/972/H 1333/402) hal itu terjadi karena keraguan Abdul Malik terhadap pendengaran Abdullah bin Az Zubaair dari Aisyah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

Kalau bukan karena kaummu yang baru dari kejahiliyahan atau berkata ke kufuraan sungguh aku akan menghancurkannya (Ka’bah) dan menjadikan untuknya pintu dan aku tempelkan pintunya ketanah serta aku masukkah padanya hijir ismail.
Kemudian Al Haarits bin abdullah bin Abi Robi’ah menguatkan dan membenarkan pendengaran Abdullah bin Az Zubair dihadapan Abdul Malik,maka kemuidian beliau menyesal akan penghancuran bangunan Ka’bah yang telah dibangun Abdullah bin Az Zubair dan pembangunannya kembali sebagaimana yang ada sebelumnya. (Muslim 2/972/H1333/403) Demikian juga diriwayatkan bahwa Kholifah Harun Ar Rosyid telah berencana untuk menghancurkan ka’bah dan membangunnya kembali sebagaimana bangunan Abdullah bin Az Zubair, akan tetapi Imam Malik bin Anas berkata kepadanya: ”Aku bersumpah demi Allah wahai amirul mukminin janganlah kamu menjadikan ka’bah ini sebagai permainan para raja setelah engkau sehingga tidaklah seorang dari mereka yang ingin merubahnya kecuali dia akan merubahnya dan kemudian hilanglah kewibawaannya dari hati-hati kaum muslimin”. Lalu beliau menggagalkan rencana tersebut,sehingga ka’bah masih seperti itu sampai sekarang ini.

Pembangunan Masjid al-Haram

Masjid Al Haram adalah masjid yang ada padanya ka’bah, dahulu masjid ini tidak bertembok akan tetapi dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk dari semua arah dan perluasan yang pertama terjadi pada masjid ini setelah datangnya islam yaitu pada masa pemerintahan Umar bin Al Khothob radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melihat bahwa masjid tidak bisa menampung para jamaah haji dan orang yang berziarah lalu beliau membeli rumah-rumah yang ada disekitarnya untuk perluasan dan mendirikan tembok atau dinding disekeliling ka’bah setinggi manusia. (lihat Tarikh Makkah 2/28-29)
Dan pada masa pemerintahan Utsman terjadi lagi perluasan demikian juga pada masa Abdullah bin Az Zubair, lalu pada masa pemerintahan bani Umayah,Walid bin Abdil Malik menambah sebidang tanah untuk masjid dan merenovasi dengan membangunnya melengkung dan menghiasinya dengan kepingan-kepingan batu dan didukung dengan tonggak-tonggak dari marmer yang dibawa dari mesir dan syiria.kemudian semasa pemerintahan bani Abassiyah,khalifah Abu Ja’far Al Manshur menambah sebidang tanah lagi untuk masjid dan membangun serambi bundar, dan ketika kholifah Al Mahdy melaksanakan haji tahun 776 H, beliau membeli rumah-rumah yang berada disekitar masjid dan tempat sa’i (mas’a) dan meratakan rumah-rumah tersebut dan menambahkannya kedalam masjid sehingga luas masjid menjadi 1200.000 hasta persegi kemudian pada masa kholifah Al Mu’tadid billah dan Al Mu’tadir billah pun terjadi perluasan akan teytapi perluasan yang cukup besar terjadi pada tahun 306 H/918 M dan setelah itutidak terjadi perluasan sampai pada pemerintahan kerajaan Saudi Arabiyah akan tetapi terjadi renovasi dan restorasi diantara masa-masa tersebut. (lihat dua kota suci, terbitan kementerian penerangan informasi luar negeri KSA, hal.10)
Pemerintah Saudi Arabiyah sebagaimana pemerintah yang lainnya yang berkuasa di makkah telah memberikan perhatian yang sangat baik termasuk masjid haram sehingga pada masa raja Saud bin Abdul Aziz ditetapkan pelaksanaan perluasan besar-besaran atas masjid Al Haram yang dilaksanakan mulai dari tahun 1375 H/1955 M dan dibagi menjadi beberapa tahap:

1. Tahap pertama dimulai tahun 1375 H/1955 M yang mencakup beberapa realisasi pembangunan yang terpenting diantaranya:
– Membongkar fasilitas tempat tinggal dan perdagangan yang berlokasi didekat tempat sa’I (mas’a) dan bangunan-bangunan yang terleetak sebelah timur Marwa serta membangun jalan baru yang membentangsepanjang shafa dan marwa ke Qarwa,Qarara dan Syamiyah.
– Membangun tempat sa’i dua tingkat dengan panjang dari dalam 394,5 meter dan lebar 20 meter untuk mengakomodasi orang yang sholat dalam jumlah yang lebih banyak dengan tinggi lantai dasar 12 meter dan lantai atas 9 meter.
– Membangun ditengah-tengah mas’a sebuah pagar pembatas panjang hingga menjadi dua bagian.salah satunya untuk pelaksanaan sa’i dari shafa ke marwa dan yang lain dari marwa ke shofa,guna menghindari tabrakan ketika pelaksanaan sa’i.
– Membuat 16 pintu yang menghadap ke timur mas’a.dua tempat masuk untuk lantai atas: satu untuk shafa dan satu untuk marwa. Dari dalam telah dibangun dua jenjang masuk dari dalam masjid, satu dekat pintu (bab) al-shofa dan yang lain dekat pintu (bab) al-salam dan dibawah tanah dibangun ruangan setinggi 3,5 meter .
– Membangun saluran khusus untuk mencegah banjir.

2. Tahap kedua dimulai tahun 1379 H/1959 M, diantaranya:
– Membangun fondasi serambi bagian timur dan dindingnya dilapisi marmer,sementara kubah dan plafon dengan batu-batu pahatan.
– Menyelesaikan bagian yang belum selesai pada pembuatan saluran air pencegah banjir.
– Membangun gang melingkar diatas shofa yang sesuai dengan tingkat atas serambi bagian timur mas’a dan antara serambi dan mas’a dihubungkan dengan plafon bundar yang berbentuk kubah.gang ini dikhususkan untuk mereka yang masuk melalui pintu (bab) al-Shofa yang baru menuju ke kedua lantai.

3. Tahap ketiga dimulai pada tahun 1318 H/1981 M diantaranya adalah:
– Membangun bagian kedua serambi barat daya dan menyelesaikan lantai bawahnya.
– Membangun serambi utama didaerah yang membentang dari pintu (bab) Al-Umroh ke pintu (bab) Al-Salam.
– Menyelesaikan pembangunan bawah tanah yang dibangun di bawah masjid al-haram, kecuali mas’a.

Setelah mas’a dimasukkan ke masjid al-haram, luas lantai atas dan lantai bawah masing-masing 8.000 m2 lima halaman masjid untuk umum juga telah dibangun sekitar masjid yang sekarang mempunyaoi 64 pintu, serta sejumlah terowongan dari semua jurusan yang dilengkapi dengan toilet dan tempat-tempat berwudhu.areal masjid haram setelah diperluas menjadi 193.000m2. sebelumnya seluas 29.127 m2, yaitu bertambah seluas 131.041 m2.ini membuat masjid mempu menampung 400.000 orang yang sholat. Perluasan ini meliputi restorasi ka’bah, areal tempat tawaf (al-mathof) dan merenovasi Maqom Ibrohim. Kemudian pada pemerintahan raja Fahd bin Abdul Aziz terdapat perluasan dan perbaikan arsitektur masjid haram termasuk menggabungkan bagian baru kepada masjid yang sekarang dari arah barat diareal pasar kecil antara pintu (bab) al-umroh dengan pintu (bab) al-malik. Areal perluasan bangunan ini seluas 57.000 m2 yang terdiri dari lantai bawah tanah, lantai dasar dan lantai satu. Areal ini dapat menampung 190.000 orang sholat.
Proyek ini termasuk menyelesaikan halaman-halaman luar yang terdiri dari halaman yang tertinggal dekat pasar kecil dan halaman yang berlokasi sebelah timur mas’a dengan areal seluas 59.000 m2. Areal ini dapat mengakomodasikan 130.000 orang sholat. Maka areal masjid setelah perluasan sekarang, atap dan halaman seluas 328.000 m2 yang dapat mengakomodasikan 730.000 orang shalat.
Perluasan bangunan ini memiliki satu pintu masuk utama dan 18 pintu biasa. Disamping itu, bangunan yang yang telah ada memiliki 3 pintu masuk utama dan 27 pintu biasa. Dalam merancang bangunan perluasan ini adalah dengan membangun dua pintu masuk untuk ruang bawah tanah di samping 4 pintu masuk yang telah ada. Bangunan perluasan ini juga mempunyai dua menara setinggi 89 meter yang didisain arsitektur dan materialnya sama dengan tujuh menara sebelumnya.Untuk fasilitas jalan masuk orang-orang sholat ke atap bangunan perluasan pada musim-musim tertentu, telah dibangun 2 eskalator, satu terletak sebelah utara dan yang lain sebelah selatan dengan areal masing-masing 375 m2. Kedua bangunan ini mempunyai 2 set eskalator yang masing-masing berkapasitas 15.000 orang per jam. Ini disamping dua set eskalator dalam bangunan itu yang masing-masing berada dekat dengan pintu masuk utama. Eskalator-eskalator ini ditambah dengan 8 buah tangga dibangun untuk mempermudah gerakan jamaah haji dan orang sholat. Maka masjid haram dan perluasan bangunannya telah memiliki tujuh eskalator, tersebar diseluruh penjuru masjid guna melayani pengunjung lantai pertama. Setiap lantai bangunan memiliki 492 tiang yang semuanya dilapisi dengan marmar dengan tinggi 4,3 meter untuk lantai dasar dan 4,7 meter untuk lantai pertama. Dasar tiang-tiang berbentuk segi enam. Bagian muka bangunan perluasan, tinggi 20,96 meter dihiasi dengan prasasti Islami terbuat dari marmer dan batu-batu buatan.
Masjid Al-Haram sekarang terdiri dari 3 lantai, lantai bawah tanah tingginya 4 meter, lantai dasar dan lantai satu masing-masing setinggi 10 meter. Atap perluasan masjid semuanya dilantai dengan marmer hingga dapat dipergunakan untuk sholat.
Tiga kubah bagi perluasan masjid itu berlokasi di tengah-tengah sejajar dengan pintu masuk utama, tingginya 13 meter, dan sekitarnya dibuat jendela-jendela celah. Bentuk luar kubah-kubah ini sama dengan kubah-kubah yang telah ada.
Perluasan yang dilakukan oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz terus dilakukan dengan memperluas masjid dengan pengembangan horisontal dari lantai-latai yang sudah ada: ruang bawah tanah, lantai dasar, lantai satu dan atap. Ruangan awah tanah semuanya terletak dibawah permukaan tanah secara mekanis telah diperlengkapi dengan ventilasi udara . Sementara itu lantai dasar dan lantai satu berada diatas permukaan tanah. Ventilasi udaranya dibuat alami melalui jendela yang saling berlawanan.

Penulis: Kholid Syamhudi Lc

Artikel UstadzKholid.com

Kategori:Uncategorized

Kota Mekah

1. Letak Kota Makkah.

Kota Makkah terletak di perut lembah, yang dikelilingi oleh bukit-bukit dari segala arah, dari sebelah timur membentang bukit Abu Qubais (Jabal Abu Qubais) dan dari barat dibatasi oleh dua bukit (gunung) Qa’aiqa’ dan keduanya berbentuk bulan sabit mengelilingi perkampungan Makkah. Dan dikenal bagian yang rendah dari lembah tersebut dengan Al-Bathhaa’ yang ada padanya Ka’bah dan dikelilingi oleh rumah-rumah orang Quraisy, sedangkan bagian yang tinggi dikenal dengan Al-Mu’alaah dan pada bagian ujung-ujung kedua bukit yang berbentuk bulan sabit tersebut dibangun rumah-rumah sederhana milik orang Quraisy Dzawaahir yaitu orang-orang pedalaman (A’rob) Quraisy yang miskin dan merupakan serdadu-serdadu perang, akan tetapi mereka ini dibawah kaum Quraisy Bathhaa’ (yang tinggal di bathhaa’) dalam kebudayaan, kekayaan dan martabatnya. (lihat As Siroh An Nabawiyah As Shahihah oleh Akrom Dhiya’ Al Umary hal:1/77).

2. Sejarah Perkembangan kota makkah

Sejarah perkembangan kota makkah berawal dari hijrohnya Ibrohim ‘alaihis salaam dari Iraq ke Syam, kemudian dari Syam ke Mesir dengan membawa risalah tauhid dan beliau ditemani oleh istrinya yang setia lagi cantik jelita saarah.
Di mesir terdapat seorang raja yang sangat rakus terhadap wanita cantik, sehingga tidak ada seorang wanita cantik yang masuk mesir kecuali dia akan mengambilnya, tetapi Allah ta’ala menghendaki keselamatan Saarah dari kerakusan sang raja, sehingga akhirnya sang raja menghadiahkannya seorang wanita untuk membantunya yang bernama Haajar. ( Lihat Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari oleh Ibnu Hajar13/134-135)
Dan ketika Ibrohim telah memasuki usia senja dan rambutnya telah memutih, sedangkan Saarah mandul, maka Saarah menghadiahkan Haajar kepada suaminya agar dinikahi, dengan harapan mudah-mudahan Allah ta’ala memberikan keturunan yang sholih untuknya dan dengan kehendak Allah ta’ala lahirlah seorang anak dari Haajar yang diberi nama Isma’il. (Lihat: Akhbar Makkah 1/54,dengan sanad yang lemah)
Kemudian hal itu membuat Saraah cemburu, hingga bersumpah akan memotong-motong Haajar menjadi tiga bagian. ( Lihat Fathul Bari 13/134-135). Lalu Haajar lari bersama suami dan anaknya yang masih menyusui, sampai berada disuatu tempat yang didirikan padanya Kaabah (Makkah), di tenda diatas Zam-zam, dan tidak ada seorangpun di makkah ketika itu, dan tidak ada juga air padanya, lalu Ibrohim memberikan bekal satu kantung kulit yang berisi korma dan satu kantung air yang berisi air minum, lalu beliau pergi meninggalkan Haajar, lalu Haajar mengikutinya, dan berkata: “Wahai Ibrohim, kemana Engkau pergi, dan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusiapun dan tidak ada jua yang lain? “ dan dia mengulangi pertanyaaannya tersebut berkali-kali, dan Ibrohim tidak menoleh kepadanya sedikitpun,sampai berkata Haajar: ”Apakah Allah ta’ala yang memerintahkan Engkau berbuat demikian? ”Ibrohim menjawab : ”benar”, lalu berkata Haajar: ”Kalau begitu Allah tidak akan membiarkan kami!”. Kemudian Haajar pulang kembali ketempatnya, lalu pergilah Ibrohim, sesampainya dia di Ats-Tsaniyah , dia menghadapkan wajahnya ke tempat Ka’bah, kemudian berdo’a:

”Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (Surat Ibrohim 14:37)

Tidak lama kemudian habislah perbekalan air yang dimiliki Haajar, lalu mereka berdua kehausan, lalu beliau tidak ingin melihat anaknya yang sedang dalam keadaan kehausan, maka dia berjalan sampai tegak berdiri diatas bukit yang paling dekat darinya, yaitu Shofa, kemudian menghadap ke lembah untuk melihat apakah ada orang yang lewat, ketika tidak melihat seorangpun, dia turun dari Shofa hingga jika sampai lembah beliau mengangkat ujung pakaiannya kemudian berlari kencang sampai melewati lembah tersebut, kemudian dia menaiki bukit Marwa kemudian menghadap ke lembah untuk melihat apakah ada orang yang lewat, dan tidak melihat seorangpun, lalu dia melakukannya tujuh kali dan pada akhir yang ketujuh,datanglah Jibril dan mulai mencari dengan tumitnya atau dengan sayapnya tempat Zamzam, sampai tampak airnya,kemudian Haajar langsung mengeruknya dan mengambil airnya dengan kedua telapak tangannya untuk minum dan zam-zam tersebut berceceran setelah diambil oleh Haajar. Dan  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

????? ???? ???????? ???? ?????? ????????????? ????????????? ?????????? ???? ?????? ????????????? ????????? ?? ???????? ???? ?????? ????????? ????????? ?? ???????? ???? ???????? ?????? ??????? ?? ???????????? ???? ?????? ???????.

Semoga Allah merahmati Ummu Isma’il, kalaulah tidak tergesa-gesa maka niscaya Zamzam menjadi sumber air yang mengalir (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari, lihat Fathul Bari 13/140,No. 3362).

Kemudian Haajar minum dan menyusui anaknya Isma’il, dalam keadaan yang seperti ini, lewatlah sekelompok orang dari kabilah Jurhum dari Yaman dari Arab Qohthoniyah, ketika mereka mendapatkan air tersebut,maka mereka meminta izin kepada Haajar untuk diperbolehkan tinggal menetap bersamanya, maka Haajar mengizinkan mereka, lalu mereka memanggil keluarga mereka agar supaya menetap di Makkah dan merekapun tinggal di Makkah dan Ismail tumbuh menjadi pemuda diantara mereka. Dan belajar bahasa arab dari mereka kemudian setelah dewasa mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari mereka. Setelah itu Ibrohim ke Makkah akantetapi tidak mendapatkan Ismail dirumahnya, dan istri Ismail menceritakan bahwaIsmail sedang keluar untuk satu keperluan,dan ketika beliau menanyakan tentang kehidupannya, mengadulah istri Ismail akan pahitnya kehidupan yang mereka berdua hadapi dari kesulitan dan kemiskinan, lalu Ibrohim mewasiatkan agar menyampaikan salam kepada Ismail dan mengatakan supaya dia merubah ambang pintu rumahnya. Ketika Ismail pulang, istrinya menceritakan apa yang telah terjadi dan Ismail mengetahui bahwa itu adalah bapaknya danfaham maksud pesan-pesan bapaknya, lalu beliau menceraikan istrinya tersebut dan menikah lagi dengan wanita lain. Dan agak lama kemudian Ibrohim mengunjungi anaknya di Makah dan tidak mendapatkan Ismail dirumahnya dan bertanya kepada istrinya tentang kehidupan mereka berdua, lalu dia memuji Allah ta’ala atas segala limpahan yang diberikan kepada keduanya dari keluasan rizki. Kemudian Ibrohim berwasiat agar menyampaikan salam kepada Ismail dan mengatakan supaya dia menetapkan ambang pintu rumahnya. Dan ketika beliau datang, maka istrinyapun menceritakan apa yang telah terjadi dan mengertilah Ismail itu adalah bapaknya dan mengerti pula pesan-pesannya.
Kemudian sekian lama Ibrohim tidak mengunjungi Makkah, lalu kembali mengunjungi anaknya Ismail dan mendapatkan anaknya di belakang zamzam sedang memperbaiki panahnya dibawah tenda yang besar dekat dengan zam-zam, dan ketika beliau melihatnya maka Ismail menyambut bapaknya sebagaimana layaknya seorang anak yang telah sangat lama tidak berjumpa dengan bapaknya dan demikian juga Ibrohim bersikap seperti itu. Lalu Ibrohim meminta anaknya Ismail untuk membantunya melaksanakan perintah Allah yaitu membangun Ka’bah ditempat yang agak tinggi di dekat zamzam, maka waktu itu Ibrohim yang membangunnya dan Ismail yang membantu membawakan batu-batunya kepada bapaknya sampai meninggi bangunan tersebut, lalu beliau membawakan batu Maqom untuk berpijak bagi Ibrohim, dan berpijaklah Ibrohim padanya, kemudian keduanya berdo’a dan keduanya sedang membangun:

Ya Rabb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Surat AL Baqorah. 2:127)

Dan ketika selesai keduanya dari membangun ka’bah, Allah ta’ala perintahkan Ibrohim untuk menyeru manusia melaksanakan haji, dengan firmanNya:

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,niscaya mereka akan datang kepadamudengan berjalan kaki,dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (Surat Al Hajj. 22:27)

Diriwayatkan bahwa Ibrohim mendaki bukit Abi Qubais atau Al hijr atau Ash Shofa dan memanggil dengan nama Allah sambil berkata: ”Wahai manusia ! sesungguhnya Robb kalian telah membangun untuk kalian rumah, maka berhajilah kepadanya”.

Lalu Allah memperdengarkan panggilannya kepada semua makhluk dan siapa yang Allah telah mudahkan untuk berhaji sampai hari kiamat akan menjawab panggilan tersebut dengan mengatakan:

???? ????? ????

“Saya terima panggilan Engkau wahai Allah, saya terima panggilan Engkau”

Demikainlah Ismail hidup berdampingan dengan ka’bah bersama keluarga mertuanya yaitu Jurhum sampai Allah utus belia sebagi Rasul untuk mereka dan seluruh Hijaz dari kabilah ‘amaliq dan Ahli Yaman. (Lihat Al Bidayah oleh Ibnu Katsir 1/209 dengan tanpa sanad).

Allah ta’ala berfirman:

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. (Surat Maryam 19:54)

Dari perkawinan Ismail dengan putrinya Mudhoodh lahirlah dua belas putra yaitu: Naabit atau Nabaayut, Qaidaar, Adbaa’iil, Mabsyaam, Masymaa’, Dumaa, Misyaa, Hadad, Yatma, Yathur dan Nafiis serta Qaidamaan. Dari mereka inilah kemudian berkembang anak turunan Ismail menjadi dua belas kabilah, yang semuanya menetap di makkah dengan mata pencahariannya adalah berdagang dari negeri-negeri Yaman sampai negeri Syam dan Mesir. Akan tetapi dari anak turunan Ismail ini hanya Naabit dan Qaidaar lah yang masih dapat terdeteksi sejarahnya.
Naabit adalah anak Isma’il yang Allah pilih untuk menjadi bapak yang akan menurunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kelak dikemudian hari, akan tetapi silsilah nasab antara dia dengan Adnan itu tidak dapat di pastikan keakuratannya. Dan Rasulullah telah menetapkan nasab beliau sampai Adnan saja, adapun nasab Adnan sampai Isma’il masih dalam perselisihan para ulama. Ketika Isma’il meninggal beliau dimakamkan disisi ibunya,dan umur beliau 137 tahun,dan seluruh Arab Hijaz berintisab kepada Qaidzar dan Naabi (Lihat: Al Bidayah 1/210).
Adnan adalah kakek yang ke dua puluh satu dari silsilah nasab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian lahir dari beliau Ma’ad dan dari Ma’ad Nizar, lalu Nizar memiliki empat orang anak yang kemudian berkembang menjadi empat kabilah besar yaitu: Iyad, Anmar, Rabi’ah dan Mudhor. Dan dari dua kabilah besar yang terakhir inilah lahir banyak marga dan suku-suku, dari Rabi’ah ada Asad, Anzah, Abdul Qais, Wail dan dua anaknya Bakr dan Taghlib, Hanifah dan lain-lainnya.
Sedangkan kabilah Mudhor berkembang menjadi dua masyarakat yang besar Yaitu: Qais ‘Ailaan bin Mudhor dan Marga-marga Ilyas bin Mudhor. Dari Qais’Ailaan ada Bani Saliim, Bani Hawaazin, Bani Ghothofan dan dari ghothofan ada ‘Abs, dzibyaan, Asyja’ dan Ghony bin A’shar. Dan dari Ilyas bin Mudhor ada amim bin Murroh, Hudzai bin Mudrikah, Bani Asad bin Khuzaimah dan marga-marga Kinanah bin Khudzaimah,dan dari Kinanah ada Quraisy yaitu anak turunan Fihr bin Maalik bin Nadhor bin Kinanah
Quraisy terbagi menjadi beberapa kabilah, yang terkenal adalah: Jumah, Sahm, Ady, Makhzum, Taim, Zahroh dan suku-suku Qushay bin Kilab yaitu Abdud-Dar bin Qushay, Asad bin Abdul Uzza bin Qushay dan Abdi Manaf bin Qushay. Abdi Manaf memiliki empat anak yaitu: Abdis Syams, Naufal, Al Muthalib dan Hasyim dan Hasyim adalah keluarga yang dipilih Allah untuk lahir darinya Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, beliau bersabda:

????? ???? ???????? ???? ?????? ????????????? ????????????? ?????????? ???? ?????? ????????????? ????????? ?? ???????? ???? ?????? ????????? ????????? ?? ???????? ???? ???????? ?????? ??????? ?? ???????????? ???? ?????? ???????.

Sesungguhnya Allah memilih Ismail dari anak Ibrohim dan memilih kinanah dari anak Ismail dan memilih Quraisy dari bani kinanah dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan memilihku dari Bani Hasyim. (Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim dan At Tirmidzi).

Telah kita ketahui bahwa asal penduduk Makkah adalah bangsa Jurhum,yang tinggal bersama Haajar dan Isma’il dan mereka memerintah Makkah setelah Isma’il, akan tetapi mereka tidak dapat menjaga kehormatan kota suci tersebut, maka tersebarlah kejahatan dan kerusakan padanya dan banyak diantara mereka yang merampok harta Kabah. Ketika sebagian bangsa Arab Yaman berpencar-pencar setelah terjadi bencana banjir yang dahsyat yang dikenal dengan nama Sailil Arim, berhijrahlah Tsa’labah bin ‘Amr bin ‘Aamir bersama kaumnya ke Makkah akan tetapi mereka ditolak oleh Jurhum,maka terjadilah pertempuran yang sengit diantara mereka dan diakhiri dengan kekalahan Jurhum. Dan akhirnya mereka menetap di Makkah. Ketika Tsa’labah sakit dia pindah ke Syam dan yang memerintah Makkah dan menjaga Ka’bah adalah saudaranya yaitu Rabi’ah bin Haaritsah bin ‘Amr yang terkenal dengan Luhay, dan dikenal kaumnya dengan nama Khuzaa’ah, dan bergabung bersama mereka anak turunan Isma’il bin Ibrohim yang mereka itu tidak ikut dalam pertempuran dengan Jurhum.
Berkuasa Khuzaa’ah di Makkah sekitar 300 tahun dan pada masa mereka inilah terjadi awal penyembahan berhala di Hijaz, dengan sebab pemimpin mereka ‘Amr bin Luhay ketika mengunjungi Syam menjumpai ‘Amaliq di Mu’ab satu tempat dari negeri Al Balqa’ menyembah berhala dan mereka berkata kepadanya bahwa mereka menyembah berhala-berhala itu karena mereka meminta hujan kepadanya maka dia turunkan hujan, mereka meminta pertolongan maka dia menolong mereka,lalu dia meminta sebuah berhala dari mereka dan mereka memberikannya berhala Hubal,kemudian ‘Amr bin Luhay membawanya ke Makkah dan memerintahkan manusia untuk menyembahnya dan mengkramatkannya,dan merekapun mentaatinya lantaran ‘Amr bin Luhay adalah pemimpin mereka yang mereka taati.
Rasulullah shallallahu’alaih wasallam bersabda tentang Amr bin Luhay:

???? ???? ?? ??? ??? ???? ?? ?????

Aku telah melihat ‘Amr bin Luhay menarik-narik ususnya di neraka.
Hadits riwayat Muslim 4/21911,No:2856.

Dan dari sinilah penduduk Makkah mulai mengenal penyembahan berhala dan akhirnya merebak dan menjadi suatu pemahaman agama yang sangat kuat pada mereka. Dan ketika anak turunan Ismail menyebar kenegeri-negeri mereka membawa batu-batu makkah untuk mereka keramatkan, dimana mereka tinggal mereka latakkan dan mereka thowafi seperti mereka thowaf di Ka’bah sampai akhrnya mereka menyembah semua batu-batuan yang mereka sukai dan kagumi, kemudian terjadi pergantian generasi dan mereka lupa dengan agama nenek moyang mereka Ibrohim ‘alaihis salaam. (Lihat: Al Bidayah 2/205). Pada masa kekuasaan Khuza’ah ini, kaum Quraisy masih berpecah-pecah sampai dipimpin oleh Qushay bin Kilaab dan beliau berhasil menyatukan kaum Quraisy dan memerangi Khuzaa’ah dengan dibantu oleh Qudhaa’ah dalam merebut kekuasaan ka’bah dan bangsa arab yang lainnya pun ikut intervensi dalam permasalahan ini,sampai akhirnya terjadi peradilan dan dimenangkan oleh Qushay bin Kilaab. Dan dari sinilah terangkat kedudukan kaum Quraisy diantara bangsa arab Al Azraaq, (Lihat: Akhbar Makkah 1/103-107).
Berkata Al Mubarokfury: ”Tentang diri Qushay ini dikisahkan bahwa bapaknya meninggal dunia saat beliau masih kecil dalam asuhan ibunya.Lalu ibunya kawin lagi dengan seorang laki-laki dari bani Udzrah,yaitu Rabi’ah bin Haraam,yang kemudian membawanya ke perbatasan Syam. Setelah Qushay menginjak remaja,dia kembali ke Makkah,yang saat itu dipimpin oleh Hualil bin Hubsyah dari bani Khuzaa’ah,lalu Qushay melamar putri Hulail yang bernama Hubba dan ternyata lamarannya diterima dengan baik olehnya. Maka dia menikah dengan putri Hulail. Setelah Hulail meninggal, terjadi peperangan antara Khuza’ah dengan Quraisy,yang akhirnya membawa Qushay menjadi pemimpin Makkah dan menangani urusan Baitul Haram.
Ada tiga riwayat yang menjelaskan sebab meletusnya peperangan ini,yaitu:
1. Setelah Qushay mempunyai banyak anak dan hartanyapun berlimpah ruah, bersamaan dengan itu Hulail meninggal dunia,maka dia merasa bahwa dialah yang lebih berhk berkuasa di Makkah dan menangani urusan Ka’bah dari pada Bani Khuzaa’ah dan Bani Bakr, sedangkan Quraisy adalah pemimpin dan pelopor anak keturunan Isma’il.Maka dia melobi pemuka-pemuka Quraisy dan Bani Kinanah agar mengusir bani Khuzaa’ah dan bani Bakr,lalu mereka menerima hal tersebut.
2. Sesungguhnya Hulail -menurut pengakuan Khuzaa’ah- telah mewasiatkan kepada Qushay untuk menangani urusan Ka’bah dan Makkah.
3. Sebenarnya Hulail telah menunjuk putrinya Hubba sebagai pemegang urusan Ka’bah,dan Abu Ghibsyaan Al Khuza’y sebagai wakilnya,lalu Abu Ghibsyaan melaksanakan tugas pemeliharaan Ka’bah sebagai wakil dari Hubba.Ketika Hulail meninggal dunia, Qushay membeli kewenangan mengurus Ka’bah dari Abu Ghibsyaan dengan satu kendi besar khamar(Arak) dan Bani Khuzaa’ah tidak menerima jual beli tersebut dan berusaha mencegah Qushay dari kekuasaan mengurus Ka’bah,lalu Qushay mengumpulkan pemuka-pemuka Quraisy dan Bani Kinanah untuk mengusir mereka dari Makkah dan mereka menyetujuinya.”
(Lihat: Rahiqul Makhtum hal 29-30).

Apapun sebabnya, yang jelas setelah meninggalnya Hulail terjadi pertempuran antara Khuza’ah dengan Quraisy, yang akhirnya membawa Qushay menjadi pemimpin Makkah dan menangani urusan Baitul Haram, setelah melalui pertumpahan darah dari kedua kelompok,dan dikisahkan bahwa mereka mengangkat Ya’mar bin Auf dari bani Bakr sebagai hakim untuk mendamaikan mereka dan dia menetapkan bahwa Qushay lah orang yang berhak untuk menangani urusan Ka’bah dan berkuasa atas Makkah.
Qushay berkuasa di Makkah dan menangani Ka’bah pada pertengahan abad kelima Masehi ,tepatnya pada tahun 440 M. Lalu dia menjadikan Makkah sebagai pemukiman kaum Quraisy dan tinggallah semua suku dari kam Quraisy serta didirikan rumah-rumah mereka di Makkah. Dan mengaturnya serta membangun Darun Nadwah disebelah utara Ka’bah yang dijadikan sebagai tempat pertemuan orang-orang Quraisy untuk membicarakan masalah-masalah penting mereka. Kemudian dia memiliki kepemimpinan yang utuh dalam pengaturan kota Makkah dan dalam masalah agama,sehingga dia menjadi pemimpin agama di Baitul-harom,yang menjadi tujuan kedatangan semua bangsa Arab dari segala penjuru.
Dengan demikian Qushay telah memimpin beberapa jabatan dan wewenang yaitu:
1. Sebagai pemimpin di Darun Nadwah. Ditempat ini para pemimpin Quraisy mengadakan musyawarah untuk membicarakan dan memecahkan masalah-masalah penting yang mereka hadapi dan juga untuk menikahkan anak-anak putri mereka
2. Sebagai pemegang panji atau bendera perang (liwa’)
3. Sebagai pemegang jabatan Hijabah (wewenang menjaga pintu Ka’bah),maka tidak ada seorangpun yang boleh membuka pintu Ka’bah kecuali dia.
4. Sebagai pemberi minum orang-orang yang menunaikan haji (Saqaaah)
5. Sebagai penerima dan penjamu orang-orang yang menunaikan haji (Rifaadatul Hajj).

Ketika menginjak usia tua, Qushay menyerahkan semua urusan kewenangan dan kepemimpinan kepada anaknya yang tertua Abdud-Dar. Dimasa hidupnya semua perbuatan Qushay tidak pernah ditentang dan dibantah, demikian juga setelah matinya,sehingga semua itu seperti layaknya agama yang harus diikuti oleh kaum Quraisy sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa dan ketinggian martabatnya.
Setelah meninggalnya Qushay, segala tugas dan wewenang tersebut dilaksanakan oleh anak-anaknya tanpa ada perselisihan sedikitpun,akan tetapi setelah meninggalnya Abdud-Dar dan saudara-saudaranya yaitu Abdi Manaf, Abdi Syams, Abdul ‘Uza, terjadi perselisihan dan perseteruan diantara anak-anak mereka, kemudian pecah menjadi dua kelompok, kelompok pertama membela bani Abdudar dan yang lain membela bani Abdumanaf. Lalu kelompok pembela bani Abdumanaf bersumpah setia dengan memasukkan tangan mereka ke bejana yang berisi minyak wangi, kemudian tangan-tangan tersebut mengusap rukun-rukun kabah, maka mereka disebut Hilpul Muthibiin. Sedangkan bani Abdudar dan pendukung-pendukungnya,mereka mengeluarkan bejana yang penuh berisi darah, lalu mereka melakukan apa yang telah dilakukan bani Abdumanaf dan pendukung-pendukungnya,maka mereka dinamakan Al Ahlaaf. Kemudian akhirnya kekuasaan dibagi-bagi,bani Abdumanaf mendapat kekuasaan atas Saqayah, Rifadah dan Qiyadah, sedangkan yang lainnya untuk bani Abdudar.
Kekuasaan-kekuasaan ini terus dipegang mereka turun-temurun hingga datangnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

(Disarikan dari kitab Assiroh Annabawiyah Fi Dhu’i Al Mashodir Al Ashliyah oleh Mahdi Rizqullah Ahmad hal 47-50 dan Rohiqul Makhtum 29-34)

Penulis: Kholid Syamhudi Lc

Kategori:Uncategorized

Masa Sebelum Kenabian

Keadaan Alam Ketika Diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Manusia pada abad ke-6 dan ke-7 masehi, hidup dalam kegelapan dan kebodohan, ketika telah tersebar merata paganisme, khurafat, fanatisme kebangsaan, rasialisme dan kesenjangan antara tingkatan kehidupan manusia dalam tatanan sosial kemasyarakatan dan politik serta penyimpangan-penyimpangan yang sangat jauh dari fitrahnya mereka. Kemudian semua pemikiran dan ajaran yang membawa kepada perbaikan manusia baik yang datang dari para Nabi dan Rasul yang diturunkan kepada mereka ataupun dari para tokoh cendikiawan dan ahli hikmah yang masih berada diatas fithrohnya yang benar telah tersimpangkan dan dibuang jauh-jauh dari kehudupan mereka, sehingga benar-benar mereka menjadi masyarakat yang rusak dan jauh dari kebenaran. Keadaan ini merata kecuali pada sekelompok ahli kitab yang masih berpegang teguh dengan agama mereka yang benar dan belum tersimpangkan, namun mereka inipun telah habis seluruhnya atau sebagian besarnya menjelang kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini digambarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam sabdanya:

??????? ????? ?????? ????? ?????? ????????? ???????????? ?????????? ???????????? ?????? ???????? ???? ?????? ??????????

Sesungguhnya Allah melihat kepada penduduk bumi kemudian mereka baik Arab maupun Ajamnya kecuali sebagian kecil dari kalangan ahli kitab. Hadits riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab Al Jannah Wa Sifat Na’imiha, hadits No.5109.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Ketahuilah sesungguhnya Allah ta’ala telah mengutus nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seluruh makhluk pada zaman fatroh dalam keadaan telah murka kepada penduduk bumi baik arab atau a’jamnya kecuali sisa ahli kitab. Merekapun telah meninggal dunia seluruhnya atau hampir seluruhnya menjelang kenabiannya. Manusia ketika itu, adalah satu dari dua keadaan: Ahli kitab yang berpegang teguh kepada kitab, ada kalanya sudah dirubah dan dihapus hukumnya dan ada kalanya agama yang telah lenyap, yang sebagiannya tidak diketahui dan yang lainnya ditinggalkan, atau ummi (buta huruf) dari orang arab dan a’jam yang senang beribadah kepada apa saja yang ia anggap baik dan bermanfaat, berupa bintang, berhala, kuburan, patung atau yang lainnya.
Manusia dalam keadaan jahiliah yang sangat bodoh, menyakini pernyataan dan pendapatnya sebagai ilmu ternyata itu adalah kebodohan dan menyakini amalan-amalannya sebagai amalan sholeh ternyata rusak. Paling baiknya mereka dalam ilmu dan amal adalah memiliki sedikit ilmu warisan para Nabi ‘alahis shalatu wassalaam terdahulu yang telah bercampur antara kebenaran dan kebatilannya atau melakukan sedikit amalan yang disyari’atkan dan kebanyakan amalannya bid’ah yang hampir tidak memberikan pengaruh dalam kebaikannya walaupun sedikit atau bersungguh-sungguh meneliti seperti kesungguhan para filosof lalu seluruh pikirannya lebur dalam perkara materi dan hitungan serta perbaikan akhlak, setelah susah payah yang tidak dapat disifatkan kepada sedikit kata yang membingungkan, tidak mendapatkan ilmu ilahi, kebatilannya lebih banyak berlipat-lipat dari kebenarannya jika berhasil. Namun bagaimana bisa berhasil dengan banyaknya perselisihan diantara ahlinya dan kebingungan serta tidak adanya dalil dan sebab”.
(lihat: Iqtidha’ Al Shirat AL Mustaqiem Li Mukhalafati Ashhabi AL Jahim, oleh Ibnu Taimiyah , Cetakan ke-5 tahun 1417 H, tahqiiq DR. Nashir bin Abdilkarim Al Aql, maktabah Al Rusyd, Riyaadh, KSA 1/63-64).
Demikianlah keadaan dunia menjelang kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun dalam pembahasan kita ini, kita hanya membatasinya dengan pembahasan mengenai jazirah Arabiyah dan kondisinya agar dapat terlihat jelas hikmah dan nikmat yang Allah karuniakan kepada kita semua.

I. Jazirah Arab

Siroh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lepas dari tempat dan bangsa yang hidup bersama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga perlu digambarkan terlebih dahulu keadaan jazirah arab sebagai tempat diutusnya beliau dan bangsa Arab sebelum Islam dan perkembangannya sebagai satu kaum yang Allah ta’ala persiapkan untuk menerima dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pertama kali.

I.1. Nama, Letak geogarfis Dan Iklim Jazirah Arabiyah

Banyak nama menunjukkan kemulian sesuatu, demikian menurut istilah bangsa Arab, oleh karena itu jazirah Arabiyah memiliki nama yang cukup banyak, diantaranya Jazirah Al Arab, Al Jazirah Al Arabiyah, Ardhu Al Arab, Diyaar Al Arab, Syibhu Jazirat Al Arab, Syibhu Al Jaziroh Al Arabiyah. (lihat: Khashaaish Jazirah Al Arab, oleh Bakr bin Abdillah Abu Zaid, Cetakan ke-3 tahun 1421, Mathobi’ Adhwa’ Al bayaan, KSA, hal 13).
Jazirah bermakna daerah yang terpisah dari lautan dan dinamakan jazirah karena terpisah dari kebanyakan bumi. Sedangkan Arab secara etimologi berarti padang pasir, tanah gundul dan gersang yang tidak ada air dan tanaman. Sebutan ini telah diberikan sejak dahulu kala kepada jazirah Arab.
Adapun letak geografisnya, jazirah Arab dibatasi oleh laut merah dan gurun sinai disebelah barat, teluk Arab dan sebagian besar negara iraq bagian selatan disebelah timur, laut Arab yang bersambung dengan samudra hindia disebelah selatan, negeri Syam dan sebagian kecil dari negeri iraq disebelah utara, dan luas jazirah Arab diperkirakan membentang antara satu juta mil sampai satu juta seribu tiga ratus mil
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Nama Arab pada asalnya adalah nama untuk satu kaum yang memiliki tiga hal:
Pertama: Bahasa mereka bahasa Arab.
Kedua: Mereka keturunan Arab.
Ketiga: Tempat tinggal mereka adalah Jazirah Al Arab membentang dari laut Qalzuum sampai Laut Bashrah dan dari ujung hijr Yamamah sampai permulaan negeri Syam, dimana yaman termasuk dalam wilayah mereka dan Syam tidak masuk dalam wilayahnya. Diwilayah inilah bangsa Arab bermukim ketika diutus Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam…”.
(Lihat: Iqtidha Al Shirath AL Mustaqim oleh Ibnu Taimiyah, op.cit 1/406).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa jazirah Arab dibatasi oleh tiga laut yaitu disebelah barat, selatan dan timur. Jazirah Al Arab dibatasi oleh laut Qalzuum (laut merah) disebelah barat, laut Arab atau laut Yaman disebelah selatan dan teluk Bashrah atau teluk Arab disebelah timur. Inilah batasan yang telah disepakti para muhaditsin, Fuqaha, Ahli sejarah dan Geografie serta yang lainnya. Sedangkan sebelah utaranya dibatasi oleh pinggiran laut merah sebelah timur laut dari pinggiran negeri Syam dan sekitarnya yang sekarang dikenal dengan Yordania. (Lihat Khashaaish Jazirah AL Arab, oleh Bakr bin Abdillah Abu Zaid, hlm 15-16).
Jazirah Arab memiliki arti penting yang strategis, karena letak geologis dan geografisnya, sedangkan dilihat dari kondisi internalnya, jazirah Arab hanya dikelilingi oleh gurun dan pasir dari segala sudut, oleh karena itu jadilah dia sebuah benteng yang kokoh yang mencegah masuknya orang asing yang ingin menjajahnya, dan ini menyebabkan mereka bisa hidup merdeka dan bebas dari segala urusan sejak dahulu kala, padahal mereka bertetangga dengan dua imperium besar yang tidaklah mereka mampu menahan serangannya andaikan tidak ada benteng pertahanan yang kokoh ini
Adapun dilihat dari kondisi hubungan eksternal, maka jazirah Arab terletak diantar benua-benua yang terkenal dalam dunia lama, dan dia mempertemukan benua-benua tersebut daratan ataupun lautan, karena sebelah barat laut merupakan pintu masuk benua Afrika, dan sebelah timur laut merupakan kunci masuk benua eropa, dan sebelah timur merupakan pintu masuk bangsa-bangsa A’jam (Non Arab), timur tengah dan timur dekat, dan terus membentang ke India dan Cina, demikianlah jaziroh Arab merupakan tempat pertemuan laut antar benua, sehingga menjadi bandara yang ramai.
Adapun iklimnya terbagi menjadi 5 bagian:
1. Iklim Tihaamah
2. Iklim Hijaz
3. Iklim najd
4. Iklim Al Yaman
5. Iklim Al ‘Arudh dan dinamakan juga Al Yamaamah
6. Iklim Omaan dan ini masuk dalam iklim Al Yaman
Diantara Iklim ini yang sangat bersinggungan langsung dengan kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah iklim Hijaz, walaupun seluruh iklim ini memiliki hubungan yang tidak kalah penting dengan sirah Nabawiyah dan perkembangan Islam didunia.

I.2. Kaum-Kaum Bangsa Arab

Para ahli sejarah membagi bangsa Arab ditilik dari asal muasalnya menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Arab Baa’idah, yaitu bangsa Arab kuno,yang sukar untuk diketahui perincian sejarahnya, seperti kaum ‘Ad, Tsamud, jadis dan ‘Amlaaq
b. Arab ’Aaribah, yaitu bangsa Arab yang berasal dari keturunan Ya’rib bin Yasyjab bin Qahthon, yang dikenal dengan Arab Qohthoniyah
c. Arab Musta’robah, yaitu bangsa Arab yang berasal dari keturunan Isma’il bin Ibrohim, yang dikenal dengan Arab Adnaniyah
Sedangkan Arab ‘Aaribah atau bangsa Qahthon tempat asalnya adalah Yaman, lalu berkembang menjadi kabilah-kabilah yang banyak. Diantara yang terkenal adalah :
a. Himyar , dan dari suku-sukunya yang terkenal: Zaid Al Jumhur, Qadho’ah dan Al Sakaasik.
b. Kahlan, dan diantara suku-sukunya yang terkenal: Hamdaan, Anmaar, Thoi, Madzhaj, Kindah, Lakhm, Jidzaam, Al Azd, Al Aus, Al Khodzroj dan anak turunan Jafnah penguasa-penguasa Syam.
Suku-suku dari kabilah kahlan berhijrah dari yaman dan tersebar di Jazirah Arab, dan kebanyakan hijrah mereka terjadi sebelum terjadinya banjir (sail arim) ketika mereka gagal dalam perdagangannya, karena tekanan dari Rumawi dan kekuasaannya terhadap jalur-jalur perdagangan laut serta pengrusakan (bangsa Rumawi) jalan-jalan darat setelah mereka menguasai negeri mesir dan Syam. Apalagi tidak tertutup kemungkinan adanya persaingan yang keras antara kabilah Kahlan dengan Himyar yang menyebabkan hijrahnya Kahlan dari Yaman. (Disarikan dari kitab Rahiiqul Makhtum oleh Shafiyur Rahman Al Mubarakfury hal.15-16).

I.3. Karekteristik Dan Keutamaan Jazirah Arabiyah.

Diantara keutamaan dan kekhususan Jazirah Arab secara umum adalah :
1. Jazirah Arab adalah tanah suci Islam (haramul Islam). (Lihat: Fatwa Lajnah Daimah no 21413 pada tanggal 1 Robiul Tsanie 1421 H).
2. Syaitan putus asa mengajak penghuninya menyembah selain Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

????? ???????????? ???? ?????? ???? ?????????? ????????????? ??? ????????? ????????? ???????? ??? ???????????? ??????????

Sesungguhnya Syaitan putus asa disembah oleh orang-orang yang sholat di jazirah Arab akan tetapi berusaha memecah belah mereka. Riwayat Muslim dalam Shahihnya kitab Shifat Al Qiyamah wal Jannah wa Al Naar, bab Tahrisy Al Syaithan, no. 2812 dan Imam Tirmidzi dalam sunannya kitab Al Bir Wash Shilah ‘An Rasulillah, Bab: Ma ja’a fi Tabaghudh no. 1937 dan Ahmad dalam Musnadnya 3/313 dan 354.
Makna hadits ini, syaitan putus asa dari bersatunya ahli jazirah Arab untuk berbuat syirik. Sebagian ulama memandang keumuman hadits ini kepada seluruh umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti pernyataan Ibnu Rajab rahimahullah: “Yang dimaksud adalah putus asa mengajak umat Islam seluruhnya bersatu berbuat kesyirikan besar”. Dengan dasar makna ini maka penyebutan jazirah Arab dalam hadits ini karena keutamaan dan keistimewaannya sebagai asal negara islam dan penduduknya adalah asal kaum muslimin.
3. Jazirah Arab adalah wakaf islam untuk pemeluknya dan peninggalan nabi untuk umatnya agar mereka menjaganya dalam wasiat terakhir beliau.
4. Islam ketika ditekan di negaranya diluar jazirah akan berlindung ke jazirah Arab dan kembali kesana, lalu mendapatkan sambutan hangat setelah terasingkan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

????? ???????????? ?????? ???????? ??????????? ???????? ????? ?????? ?????? ???????? ?????? ??????????????? ????? ???????? ?????????? ??? ?????????

Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing seperti awalnya dan ia akan kembali kedaerah diantara dua masjid sebagaimana ular kembali kelubangnya. Diriwayatakan Imam Muslim dalam Shahihnya kitab Al Imaan bab Bayaan Ana Al Islam Bada’a Ghariban. No. 146.

I.4. Karekteristik Dan Keutamaan Bangsa Arab.

Bangsa Arab adalah bangsa besar yang menimbang dan mengukur kehidupan ini dengan timbangan yang berbeda dengan umat lainnya, mereka menimbangnya pada satu etika yaitu kemuliaan dan nama baik. Memang bangsa Arab dahulu sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam merupakan umat yang memiliki akhlak terbaik, karena mereka memiliki sebagian akhlak mulia yang menjadi warisan agama nabi Ibrohim, namun mereka kufur dari banyak syari’at nabi Ibrahim. Karena itulah Allah mengutus Muhammad shallallahu’alaihi wasallam untuk menyempurnakan akhlak mereka dengan membersihkan jiwa mereka dari akhlak yang buruk, sehingga menjadi umat yang bertakwa. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

????? ??????? ?????? ?????? ?????? ???????? ????????? ???????? ???????? ??????????? ??????? ????????????

Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dengan lafadz ini dalam Musnadnya 2/381, imam Al Haakim dalam Mustadraknya 2/613, Imam Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrad no. 273 dan Tarikh Al Kabiir 4/1/188, Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya 1/192, Al Qadha’iy dalam Musnad Asy Syihaab no. 1165, Al Kharaaithiy dalam Makarimul Akhlak Wa Ma’alimiha hal 2 dan Ibnu ‘Asaakir dalam Tarikh Dimasqi 6/267/1.

Islam mempertahankan akhlak mulia yang dimiliki bangsa Arab, seperti dermawan, memuliakan tamu dan lain-lainnya, lalu menyempurnakannya dengan menghapus akhlak buruk mereka.
Demikianlah Allah memilih kemunculan Islam pada mereka, tentu itu karena keistimewaan yang dimiliki bangsa Arab dan jazirahnya. Allah memilih Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dari mereka, sehingga kenabian berasal dari keturunan mereka lalu mereka terpilih sebagai pengemban tugas menyebarkan risalah Islam yang pertama dan jadilah keyakinan akan keutamaan mereka sebagai salah satu pokok aqidah seorang muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Diantara ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah meyakini jenis Arab adalah lebih utama dari jenis A’jam baik jenis Ibrani, Suryani, Rumawi, farsi dan selainnya dan Quraisy adalah suku terbaik Arab dan bani Hasyim adalah bani terbaik Quraisy dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah anggota bani Hasyim yang paling utama, dialah makhluk terbaik dalam pribadi dan nasabnya. Bukanlah sekedar keutamaan Arab, kemudian Quraisy kemudian bani Hasyim itu hanya dikarenkan nabi dari mereka – walaupun ini satu keutamaan-, namun sebenarnya mereka sendiri itu terbaik. Dengan demikian terbuktilah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalllam adalah orang yang paling utama diri dan nasabnya”. (lihat: Iqtidha’ Al Shirath Al Mustaqim karya Ibnu Taimiyah 1/274-275).

Syaikh Thohir bin ‘Asyuur memberikan pernyataan tentang hal ini dalam pernyataan beliau di kitab Maqaashid Al Syari’at Al Islamiyah hal. 93: “Allah memiliki hikmah yang agung dalam memilih seorang Arab untuk mengemban risalah islam ini. Sekarang bukanlah tempat menjelaskan pengetahuan saya tentang hikmahnya dan Allah telah berfirman:

“Allah lebih mengetahui ketika menjadikan risalahNya”.

Kami berkata : Sungguh Rasul ketika beliau seorang arab maka secara otomatis berbicara dengan bahasa Arab, sehingga mengharuskan orang yang menerima syariatnya memiliki kemampuan bahasa Arab. Maka Arablah pengemban risalah islam kepada sekalian orang yang berbahasa Arab dan mereka termasuk dalam kumpulan ini. Kemudian Allah memilih mereka untuk memanggul amanah ini, karena mereka memiliki keistimewaan dari seluruh umat yang ada dengan berkumpulnya empat sifat yang tidak dimiliki umat lain dalam sejarah. Sifat tersebut adalah kejernihan pikiran, kuat hafalan, peradaban dan syariat yang sederhana dan jauhnya dari percampuran umat dunia yang lainnya.
Mereka dengan sifat pertama mampu memahami dan menerima agama dan dengan sifat kedua mampu menghafalnya dan tidak ada kebimbangan dalam menerimanya. Dengan sifat ketiga mampu cepat berakhlak dengan akhlaknya; karena mereka lebih dekat kepada fithrah yang selamat dan tidak memiliki syari’at yang baku dan mewakili sehingga mereka sungguh-sungguh bela mati-matian dan dengan sifat keempat mampu bergaul dengan seluruh umat, kare tidak terdapat permusuhan diantara mereka dengan umat lain, karena perseteruan Arab tidak lain hanya ada diantara kabilah mereka berbeda dengan bangsa farsi dengan rumawi dan seperti Al Qibthie dengan orang-orang Israil. (Dinukil dari khashaaish Jazirah Al Arab karya Syeikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid, hal 60-61).

1.5. Kondisi Politik, Keagamaan Dan Sosial Di Jazirah Arabiyah

Ketika kita akan berbicara tentang kondisi bangsa Arab sebelum Islam, tampaknya perlu memberikan gambaran sekilas tentang kondisi politik, keagamaan dan social mereka sehingga memudahkan kita mengenal keadaan yang ada ketika islam muncul.

1.5.1. Sistem Pemerintahan dan Politik

Pemerintahan Arab sebelum datangnya Islam dapat dibagi menjadi dua ; kerajaan, namun tidak merdeka penuh dan kepemimpinan kepala suku yang sama dengan kekuasaan seorang raja. Bangsa Arab hampir seluruhnya merdeka dibawah pimpinan kepala suku dan sebagian lainnya dibawah kekuasaan kerajaan.
Kerajaan ini dapat diwakili oleh kerajaan Yaman, Alighasaan (di Syam) dan Al Hirah.

1. Kerajaan di Yaman.

Bangsa Arab Al Aribah yang terdahulu yang dapat diketahui beritanya adalah kaum Saba’ yang disebutkan dalam Al Qur’an. Allah berfirman:

???????? ?????? ??????? ??????? ??????? ????????? ?????? ???? ?????????? ??? ?????? ???????? ??????? ?????? ???????? ????????? ???????????? ??????????? ??? ????? ?????? ??????? ?????? ??????? ??????????? ??????????? ??????????? ?????????? ??? ????? ????? ????????? ?????? ???????????? ????????????? ??????????? ???? ?????????? ?????? ?????????????? ???????????????? ????? ??????? ???????? ????????? ??? ????????????? ??????????? ?????????? ???????????? ???????????????? ????? ???????? ?????????? ????? ????????? ?????????? ????? ????????? ?????????? ???? ????? ???? ????????????? ?????? ??????????? ????? ?????????? ?????????? ????? ??????? ???????? ???????? ?????? ??????????? ??????? ??????????? ?????????? ?????? ???????? ??????? ??????? ??????? ??????? ??? ??????????? ????????? ?????? ????? ??????????? ?????????? ?????????????? ??????? ?????????? ??????????? ??????? ??????????? ?????????? ?????????? ??? ??????? ???????? ????????? ??????? ?????? ??????????? ??????? ?????? ??????? ??????? ?????????? ?????? ??????? ??????????? ???????? ????????? ?????? ?????????? ??????? ????? ?????????? ????? ???????? ???????? ???????????? ?????????? ????????? ????????? ????????? ?????????? ??????????? ???????? ?????????? ????????? ??????????? ??????????? ???? ???????? ?????????????? ???????? ????? ??????????? ????? ?????????????? ??????? ????? ?????????? ????? ?????? ??????? ????????? ???? ?????? ??????????????? ??????????? ??????? ?????????? ?????????????????? ????????? ?????????? ????? ????? ?????????????????? ???????? ????????? ?????? ?????????? ????? ??????????? ?????????? ????????? ?????????? ??????????? ?????? ??? ?????????? ??????????? ????? ????????? ????? ???????? ????? ???????? ???? ?????? ??? ??????? ??? ?????????? ???????? ???????? ????????? ??????? ????? ??????? ??????? ?????? ????? ?????????? ????? ???????? ???? ?????? ??? ????????? ???????? ???????? ???????? ??????? ???????????? ??????? ????? ????? ??? ?????? ?????? ????????????? ?????????? ???? ???????? ????? ?????? ?????????? ???????? ?????????? ????? ?????? ??????? ?????? ??????? ??????? ????? ????????? ????? ????????? ??????? ??????????? ???? ??????? ???? ????????? ?????????????? ???????? ??????? ????? ????????? ???????? ??????? ????????? ???? ??????????? ????????? ??? ????????? ???????? ??????????? ?????????? ?????????? ???????? ??? ????? ????? ???????? ??????? ??? ?????? ?????????? ????? ????? ???????? ????????? ???????? ???????? ?????????? ??????? ?????????? ???? ?????????? ????? ??????? ?????? ?????????? ???? ?????????? ??????? ?????? ???????? ??????? ???????????? ???? ??????????? ????? ????? ?????????????

Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Ilah Yang disembah kecuali Dia, Rabb Yang mempunyai’Arsy yang besar”. Berkata Sulaiman:”Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”. Berkatalah ia (Balqis):”Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya:”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. Berkatalah dia (Balqis):”Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”. Mereka menjawab:”Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”. Dia berkata:”Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”. Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata:”Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada mereka sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”. Berkata Sulaiman:”Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin:”Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat membawanya lagi dapat dipercaya”. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab:”Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”.Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata:”Ini termasuk kurnia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. Dia berkata:”Robahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya)”. Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya:”Serupa inikah singgasanamu” Dia menjawab:”Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri”. Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir. Dikatakan kepadanya:”Masuklah ke dalam istana”.Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya.Berkatalah Sulaiman:”Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Balqis:”Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam”. (QS. An Naml 27: 22-44)

Mereka diketahui dalam penelitian ahli sejarah telah hidup sejak abad ke-25 sebelum masehi (SM) dan terus berkembang dan memiliki kekuasaan besar sampai abad ke-11 SM. (Lihat: Al Rahiqul Al Makhtum karya Shofiyurrahman Al Mubarakfuri, cetakan ke-6 tahun 1418 H, Rabithah Al Alaam Al Islami, Jeddah, KSA. Hal 28 dan Al Siroh Al Nabawiyah Fi Dhu’i Al Mashodir Al Asliyah op.cit hal 59)

Dapat kita ringkas sejarah kerajaan Yaman ini kedalam perkiraan dibawah ini:
1. Masa sebelum tahun 250 SM raja-raja saba’ dizaman ini bergelar Makrib Saba’ dan ibukotanya Shorwaah yang terdapat peninggalannya di sebelah barat kota Ma’rib sejauh perjalanan sehari. Tempat ini dikenal dengan nama Khoribah. Dizaman inilah dimulai pembangunan bendungan tertua yang dikenal dengan Sad Ma’rib (bendungan Ma’rib).
2. Sejak tahun 250 SM sampai tahun 115 SM berubah gelar raja-raja mereka dengan gelar Muluk Saba’ (raja-raja Saba’) dengan ibukotanya Ma’rib. Peninggalannya masih ada disebelah timur kota Shon’a berjarak 60 mil.
3. Sejak tahun 115 SM sampai 300 M kabilah Himyaar dapat mengalahkan kerajaan Saba’ dan menjadikan kota Ridaan sebagai ibukotanya menggantikan Ma’rib. Kemudian kota Radaan ini dikenal dengan kota Dzifaar dan peninggalannya masih ada disekitar pegunungan dekat kota Yariem. Pada masa ini mulailah kerajaan Yaman mundur dan mulailah suku-suku Al Qahthoniyah melakukan imigrasi kedaerah-daerah sekitarnya. Diantara sebab kemunduran ini adalah munculnya kekuasaan Al Anbaath (anak keturunan Nabiet bin Ismail) yang menguasai yang telah menguasai utara Hijaaz dan kekuasaan Rumawie yang telah menguasai jalur perdagangan laut setelah menguasai Mesir, Suria dan sebelah utara Hijaaz serta adanya persaingan diantara suku-suku Arab Yaman.
4. sejak tahun 300 M sampai islam masuk ke Yaman. Dalam masa ini terjadi keguncangan politik dan kudeta berdarah yang berturut-turut serta perang saudara yang membawa Yaman tunduk dibawah imperalis asing. Pada masa ini Rumawi berhasil menduduki ‘Aden dengan dengan bantuan mereka kerajaan Habasyah berhasil menduduki Yaman pertama kali pada tahun 340 M dengan memanfaatkan perseteruan antara suku Hamadaan dan Himyaar dan berlangsung pendudukan ini sampai tahun 378 M kemudian Yaman merdeka kembali. ( Lihat As Siroh An Nabawiyah Fi Dhu’i Al Mashodir Al Asliyah hal 59 dan Rahiqul Makhtum karya Shofiyurrohman Al Mubarakfuri, hal: 28-29). Namun terjadi musibah besar setelah itu yaitu hancurnya bendungan Ma’rib yang menjadi sumber kenikmatan dan kemakmuran mereka, peristiwa ini dikenal dengan Sail Al ‘Ariem pada tahun 450 atau 451M. (Dinukil dari kitab Al Tarikh karya Al Ya’qubie oleh penulis kitab As Siroh AnNabawiyah Fi Dhu’i Al Mashodir Al Asliyah hal 59). Peristiwa ini Allah abadikan dalam Al Qur’an dalam firmanNya:

?????? ????? ???????? ??? ???????????? ??????? ?????????? ??? ??????? ????????? ?????? ??? ??????? ????????? ??????????? ???? ???????? ????????? ??????? ??????? ???????????? ????????????? ?????????? ?????? ????????? ???????????????? ??????????????? ??????????? ????????? ?????? ?????? ???????? ???????? ???? ?????? ??????? ?????? ???????????? ????? ???????? ?????? ???????? ?????? ??????????

Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.(kepada mereka dikatakan):”Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Rabb-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabb-mu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka.Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (QS. Saba’ 34:15-17)

Pada tahun 523 M Raja Yaman yeng bernama Dzu Nuwaas berusaha memalingkan orang-orang nashroni dari agama mereka, ketika mereka enggan maka mereka dibakar di dalam parit yang telah disediakan. Kejadian ini menurut ahli sejarah adalah kejadian yang Allah abadikan dalam Al Qur’an dalam firmanNya:

Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk disekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orangyang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang yang mu’min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Alllah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (QS. Al Buruj 85:5-9)

Ini menjadi sebab yang digunakan Rumawi untuk memprovokasi kerajaan Habasyah untuk menguasai Yaman yang kedua kali dibawah pimpinan Aryaath tahun 525 H. ia tetap memimpin sampai dibunuh Abrahah. Kemudian Abrahah memimpin Yaman dan berusaha menghancurkan Ka’bah.

Dalam Kitab Rahiqul Makhtum karya Shofiyurrahman Al Mubarakfuri disebutkan setelah meninggalnya Abrahah, bangsa Yaman meminta bantuan Farsi untuk mengusir orang habasyah dan dibantu sehingga tahun 575 H dibawah pimpinan Ma’dikarib bin Saif bin Dzi Yazin Al Himyarie berhasil mengusirnya dan menjadi raja Yaman lalu ia terbunuh dan akhirnya Yaman dipimpin seorang Farsi yang bernama Baadzaan bin Saasaan yang memeluk Islam pada bulan Jumada Ula tahun ke-7 H atau 628 M, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat anaknya yang bernama Syahr bin Baadzaan sebagai penggantinya.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan tentang hal ini dalam pernyataan beliau: “Diantara amir-amir yang diangkat Nabi shallalllahu ‘alaihi wasallam adalah Baadzaan bin Saasaan dari keturunan Bahram Jur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkatnya sebagai amir seluruh Yaman setelah kematian kisra’. Beliau adalah amir yaman pertama yang masuk Islam dan raja A’jam pertama yang masuk Islam. Kemudian setelah kematian Baadzaan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat anaknya yang bernama Syahru bin Baadzaan sebagai amir Shon’a dan sekitarnya”. (Lihat: Zaadul Ma’ad Fi Hadyi Khoir Al Ibaad, karya Ibnul Qayyim, tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qadir Al Arnauth, cetakan ke-3 tahun 1421 H, Muassasat Al Risalah 1/121).

2. Kerajaan di Al Hierah

Farsie menguasai Iraq dan sekitarnya sejak disatukan kekuatan mereka oleh Quruusy Agung tahun 557-529 S.M, kemudian dihancurkan oleh Iskandar Agung Al Makedonie tahun 326 SM lalu yang berkuasa hanyalah kerajaan kecil sampai tahun 330 M. Pada masa raja-raja kecil inilah bangsa Arab Qahthoniyah berimigrasi dan menetap di sebagian kecil wilayah rief (pinggiran selatan) Iraq lalu disusul Al Adnaniyah dan berhasil menempati satu wilayah dari Jazirah Al Furatiyah.
Dalam kitab As Siroh An Nabawiyah Fi Dhu’i Al Mashodir Al Asliyah disebutkan bawa Ardatsier adalah pendiri kerajaan Sasaaniyah yang mengumpulkan kekuatan farsie sejak 226 M dan berhasil menyatukan farsi dan menguasai bangsa Arab yang tinggal disekitar wilayah kerajaannya. Inilah yang menyebabkan suku Qudha’ah berimigrasi ke Syam sedang penduduk Al Hierah dan Al Anbaar bergabung dengan Ardasyier. pada zaman Ardasyier ini yang memimpin bangsa Arab di Al Hierah adalah Jadziemah Al Wadhaah, tampaknya Ardasyier memandang tidak akan mampu memimpin langsung bangsa Arab dan tidak mampu menghalau mereka menggangu wilayah kerajaannya kecuali dengan mengangkat seorang raja dari mereka yang memiliki loyalitas kepadanya, disamping itu ia ingin menggunakan mereka melawan kerajaan Rumawie. Ia menempatkan satu battalion pasukan berkudanya untuk membantu raja Arab tersebut dalam memimpin dan mengatur bangsa Arab agar dapat menghadang kepentingan Romawi dan Arab Syam. Kemudian setelah wafatnya Jazimah kekuasaan Arab pindah ke suku Lakhm dengan rajanya Amru bin ‘Adie Al Lakhmie pada masa kisra Saabuur bin Ardasyier sampai masa kekuasaan Qabaadz bin Fairuz.
Dalam Rahiqul Makhtum hal 31-32 disebutkan bahwa diantara raja-raja Al Hierah yang terkenal adalah Al Nu’maan bin Al Mundzir yang berhasil mengalahkan pasukan Farsi dalam perang Dzi Qaar setelah kelahiran Nabi. Kejadian ini adalah kemenangan pertama Arab atas A’jam, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

????? ?????? ?????? ????????? ????????? ?????? ???? ????????? ?????? ?????????

Inilah hari pertama kemenangan Arab dari A’jam dan dengan sebabku mereka menang. Hadits diriwayatkan Imam Ath Thabari dalam tarikhnya 1/206-207dan Al Ya’qubie dalam Tarikhnya 1/215 tanpa sanad, Namun hadits ini lemah (dho’if).

3. Kerajaan Syam.

Pada masa imigrasi Arab dari negeri mereka, beberapa suku dari Qudha’ah berimigrasi ke pinggiran Syam dan menetap disana. Mereka ini berasal dari bani Salieh bin Halwaan yang melahirkan bani Dhaj’am bin Salieh yang dikenal dengan Dhaja’amah yang dimanfaatkan Romawi untuk melawan Arab pedalaman berbuat keonaran dan untuk senjata melawan Farsi. Lalu mereka mengangkat seorang raja untuk mereka, kemudian silih berganti raja Dhaja’imah ini sampai dikalahkan suku Ghasaasinah. Kemudian Ghosaasinah ini mejadi penguasa boneka Romawi sampai terjadi perang Yarmuk tahun 12 H (634 M) dan raja terakhir mereka yang bernama Jabalah bin Al Aiham masuk Islam pada masa pemerintahan Umar bin Al Khothob. (Diterjemahkan dari Kitab As Siroh An Nabawiyah Fi Dhu’i Al Mashodir Al Asliyah hal 61).

4. Selain ketiga kerajaan ini.

Adapun bangsa Arab lainnya mereka dipimpin oleh kepala suku atau kepala kabilah. Mereka ini layaknya seperti raja dan memiliki hak-hak khusus seperti Al Marbaa’ (hak mengambil seperempat dari ghonimah rampasan perang), As Shofaa (harta yang dipilih kepala kabilah tersebut sebelum pembagian harta rampasan perang), An Nasyithoh (harta yang didapatkan kepala suku di jalan sebelum sampai ke tengah-tengah kaumnya) dan Al Fudhul (harta sisa pembagian yang tidak dapat dibagi kembali kepada para prajurit perangnya, seperti onta, kuda dan lain-lainnya). Para kabilah ini sangat mematuhi segala titah dan perintah kepala sukunya yang didasari oleh kesatuan fanatis golongan dan keluarga.

1.5.2. Keadaan keagamaan.

Adapun agama dan kepercayaan yang berkembang di Jazirah Arab sebelum Islam ada empat:

1. Yahudiyah

Agama Yahudi dianut orang-orang yahudi yang berhijroh ke Jazirah Arab, diantara mereka ada yang tinggal di Madinah, sebagiannya di Khaibar, Fadk, Wadi Al Qura dan Taima’. (Lihat: As Siroh AnNabawiyah karya Muhammad Abdulqadir Abu Faaris, hlm: 82). Agama yahudi juga sampai ke Yaman.dan dianut raja Dzu Nuwas Al Himyari kemudian tersebar pada bani Kinanah, Bani Al Haarits bin Ka’ab dan Kindah. (lihat: As Sirah An Nabawiyah Fi Dhu’ie Al Mashodir Al Ashliyah hlm 71).

2. Nashroniyah (Kristen)

Agama nashroni masuk ke kabilah-kabilah Ghasasinah dan Al Munadzirah dan memiliki beberapa gereja besar yang terkenal, diantaranya Gereja Hindun Al Aqdam, Al Laj dan Haaroh Maryam. Demikian juga masuk diselatan jazirah Arab dan berdiri gereja di Dzufaar dan yang lain di ‘And demikian juga di daerah Nejron. Sedangkan diantara kabilah Quraisy yang menganut agama nashroni adalah bani Asad bin Abdiluzaa. Demikian juga dianut oleh bani imriil Qais dari Tamiem, bani Taghlib dari Kabilah Rabi’ah dan sebagian kabilah Qudho’ah. Nampaknya mereka manganut agama ini melalui perantara imperium Romawi.

3. Majusiyah

Sebagian sekti Majusi juga masuk kejazirah Arab dibani Tamim, diantaranya Zaraarah dan Haajib bin Zaraarah. Demikian juga Al Aqra’ bin Haabis dan Abu Sud- kakek Waki’ bin Hisan- termasuk yang menagnut ajaran majusi ini. Majusiyah juga masuk ke daerah Hajar di Bahrain.

4. Syirik

Kebanyakan bangsa Arab menyembah patung berhala, bintang-bintang dan matahari yang mereka jadikan sesembahan selain Allah. Penyembahan bintang-bintang juga bermunculan di Jazirah Arab khususnya di Haraan, Bahrain dan diMakkah tersebar diantara bani Lakhm, Khuza’ah dan Quraisy. Sedangkan penyembahan matahari ada dinegeri Yaman, sebagaimana diisyaratkan Al Qur’an dalam firmanNya dalam surat An Naml ayat 22-23:

?????? ???????? ????????? ???????????? ??????????? ??? ????? ?????? ??????? ?????? ??????? ??????????? ??????????? ??????????? ?????????? ??? ????? ????? ????????? ?????? ???????????? ????????????? ??????????? ???? ?????????? ?????? ??????????????

Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk.

Dahulu kebanyakan bangsa Arab mengikuti agama nabi Ibrahim dan dakwah nabi Isma’il, mereka menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dalam seluruh peribadatan sehingga berlalu beberapa masa dan lupa ajaran nabi mereka. Namun mereka masih memiliki tauhid dan sebagian syiar agama nabi Ibrohim sampai kota Makkah dikuasai bani Khuza’ah. Bani Khuza’ah menguasai ka’bah selama kurang lebih tiga ratus tahun dan ada yang menyatakan lima ratus tahun. Ketika bani khuza’ah dipimpin Amru bin Luhai Al Khuza’ie mulailah terjadi penyembahan berhala (paganisme) dikalangan bangsa Arab.
Adapun kisahnya disampaikan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab An Najdi rahimahullah dalam pernyataan beliau: “Adapun kisah Amru bin Luhai dan perubahan agama nabi Ibrahim, maka ia seorang yang berkembang dalam sifat baik dan dermawan seta memiliki semangat agama yang tinggi sehingga orang-orang sangat mencintainya dan mengikutinya karena perkara tersebut sampai mengangkatnya sebagai penguasa mereka. Kemudian ia menjadi penguasa Makkah dan Ka’bah dan bangsa Arab menganggapnya sebagai ulama besar dan wali. Pada satu waktu ia bepergian kenegeri Syam lalu melihat mereka (ahli Syam) menyembah patung berhala, kemudian ia menganggap hal itu baik dan menyangkanya satu kebenaraan, karena Syam adalah tempat para rasul dan turunnya kitab suci, sehingga mereka memiliki keutamaan dalam hal itu dari ahli Hijaz dan yang lainnya. Kemudian ia kembali ke Makkah membawa patung Hubal dan menempatkannya di dalam Ka’bah serta mengajak ahli Makkah untuk berbuat syirik. Ajakan itu mereka terima. Sedangkan ahli Hijaaz mengikuti ahli Makkah dalam agama, karena ahli Makkah adalah pemilik Ka’bah dan penduduk tanah suci’.(Lihat: Mukhtashor Sirah Ar Rasul karya Muhammad bin Abdulwahab At Tamimi rahimahullah, tahqiq Hana’ Muhammad Jazamaati, cetakan keenam tahun 1421H, Dar Al Kitab Al Arabi, Bairut, hlm15.)
Kemudian Amru bin Luhai mendapatkan patung-patung kaum nabi Nuh yang telah terpendam akibat banjir taufan dan membagi-bagikan patung tersebut kepada kabilah-kabilah Arab. Hal ini diceritakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam pernyataan beliau rahimahullah : “Amru bin Luhai adalah seorang dukun yang memiliki jin, lalu jin tersebut berkata kepadanya: “Percepat perjalana dan kepergianmu dari Tuhamah dengan kebahagian dan keselamatan, datangilah Jeddah, nanati kamu dapati patung-patung yang telah jadi, lalu bawalah ke Tuhamah dan jangan hadiahkan. Serulah bangsa Arab untuk menyembahnya nanti mereka akan menerimanya”. Lalu ia mendatangi Jeddah dan mencari patung-patung tersebut kemudian membawanya ke Tuhamah. Ketika datang musim haji maka ia mengajak bangsa Arab untuk menyembahnya”.

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

???????? ??????? ???? ??????? ???? ??????? ????????????? ??????? ???????? ??? ???????? ??????? ??????? ???? ??????? ????????????

Aku melihat Amru bin A’mir bin Luhai mengeluarkan ususnya dineraka dan ia adalah orang pertama yang membuat-buat ajaran Al sayaaib (onta yang tidak boleh diberikan beban dan dikhususkan untuk nadzar sehingga dilepas makan dan minum apa saja dan tidak ditunggangi). HR Al Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al Manaqib Bab Qishoh Khuza’ah no. 3260.

Patung-patung tersebut adalah patung Wadd, Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr, sebagaimana Allah namakan dalam Al Qur’an ketika mengisahkan kisah kaum nabi Nuh dalam firmanNya:

????????? ??? ????????? ????????????? ?????????????? ?????? ????????????? ???????????? ????????? ?????????

Dan mereka berkata:”Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr. (QS. 71:23)

Kemudian tersebarlah paganisme ini keseluruh bangsa Arab, sehingga setiap rumah memiliki berhala sendiri-sendiri dari berbagai macam benda; ada yang dari batu, kayu, tanah sampai tepung terigu. Mereka menyembah batu yang mereka bawa dan ketika melihat batua lain yang lebih bagus maka ia melempar yang pertama dan mengambil yang kedua sebagai sesembahanya. Sebagian mereka bila tidak menemukan batuan mengumpulkan tanah lalu diberi air susu kambing kemudian menthowafinya, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Ar Raja’ Al ‘Athorisiy, beliau berkata:

?????? ???????? ????????? ??????? ????????? ??????? ???? ???????? ?????? ????????????? ??????????? ???????? ??????? ???? ?????? ??????? ????????? ???????? ???? ??????? ????? ??????? ?????????? ????????????? ???????? ????? ??????? ????

Kami menyembah sebuah batu, jika kami dapati batu lain yang lebih bagus maka kami buang dan kami ambil yang kedua. Jika kami tidak mendapati batu maka kami kumpulkan tanah dan kami bershadaqah dengan susu dan kami thowafi (kumpulan tanah tersebut). HR Al Bukhari dalam Shahihnya Kitab Al Maghazi bab Wafd bani Hanifah Wa Hadits Tsumamah bin Atsaal no. 3027.

Diantara mereka ada yang menyembah pohon atau malaikat dan menyatakan malaikat adalah anak perempuan Allah, sebagaimana dikisahkan Al Qur’an dalam firmanNya:

???? ???? ?????????? ???????? ??????????

Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki. (QS.At Thuur 52:39)

???????? ????????? ?????? ?????????

Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan. (QS. An Najm 53:21).

Sebagian mereka ada yang menyembah jin, lalu jinnya masuk islam dan penyembahnya masih menyembahnya. Sebagaimana disampaikan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

????? ????? ???? ????????? ??????????? ?????? ???? ???????? ?????????? ???????? ??????????? ????????? ???????????

Dulu ada sejumlah orang yang menyembah sejumlah jin, lalu jin tersebut masuk Islam dan mereka (para penyembahnya) tetap berada pada agama mereka. Lalu turunlah firman Allah:

?????????? ????????? ????????? ??????????? ????? ????????? ???????????? ????????? ???????? ??????????? ?????????? ???????????? ????????? ????? ??????? ??????? ????? ??????????

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya, sesungguhnya azab Rabbmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti. (QS. Al Isra’ 17:57).

Tentang penyembahan mereka pada malaikat dan jin telah Allah kisahkan dalam firman:

???????? ???????????? ???????? ????? ??????? ??????????????? ?????????? ?????????? ??????? ??????????? ??????? ??????????? ????? ?????????? ??? ???????? ???? ??????? ??????????? ???????? ??????????? ????? ????????????

Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat:”Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab:”Maha Suci Engkau.Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu. (QS. Saba’ :40-41).

Bangsa Arab memiliki thaghut-thaghut berupa rumah keramat menyamai ka’bah, diantaranya Al Laata dan Uzza. Mereka perlakukan sebagaimana memperlakukan ka’bah.
Demikianlah keadaan agama di jazirah Arabiyah sebelum datangnya Islam. Walaupun demikian mereka masih mengimani rububiyah Allah dan menganggap Allah sebagai sesembahannya juga, namun keyakinan ini semua tidak dapat menyelamatkan mereka dari siksaan Allah ta’ala.

Patung-patung yang terkenal dikalangan Arab Jahiliyah.

Diantara sekian banyak patung berhala dikalangan bangsa Arab sehingga Ka’bah saja dikelilingi lebih dari tiga ratus enam puluh patung berhala. Namun pada kesempatan kali ini kita akan menjelaskan secara singkat berhala-berhala bangsa Arab jahiliyah.

1.Wadd

Wadd adalah salah satu patung kaum nabi Nuh yang berasal dari nama seorang sholih dari mereka. Ditemukan kembali oleh Amru bin Luhai di Jeddah dan diberikan kepada Auf bin ‘Adzrah dan ditempatkan di Wadi Al Quraa di Dumatul Jandal dan disembah oleh bani kalb bin Murrah. Patung ini ada sampai datangnya Islam kemudian dihancurkan Khalid bin Walid dengan perintah Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam. (Lihat: As Sirah An Nabawiyah Fi Dhu’ie Al Mashodir Al Ashliyah hlm: 66).

2.Suwaa’

Dalam Kitab Mukhtashar Sirah Ar Rasul hal: 50, dijelaskan bahwa yang dimaksud Suwaa’ adalah salah satu patung kaum nabi nuh yang ditemukan kembali dan diberikan kepada Mudhor bin Nizaar dan diserahkan kepada bani Hudzail serta ditempatkan di Rohaath sekitar 3 mil dari Makkah

3.Yaghuts

Yaghuts adalah salah satu patung kaum nabi nuh yang ditemukan kembali dan diberikan kepada Na’im bin Umar Al Muradi dari Majhaj dan ditempatkan di Akmah atau Jarsy di Yaman, disembah oleh bani Majhaj dan bani An’am dari kabilah Thaiyi’.

4.Ya’uq

Ya’uq adalah salah satu patung kaum nabi nuh yang ditemukan kembali dan diberikan kepada kabilah Hamadan dan ditempatkan di Khaiwaan, disembah oleh orang-orang Hama.

5. Nasr

Nasr adalah salah satu patung kaum nabi nuh yang ditemukan kembali dan diberikan kepada kabilah Himyar dan ditempatkan di Saba’ disembah oleh bani Dzi Al Kilaa’ dari kabilah Himyar dan sekitarnya.

6. Manaah

Manaah adalah salah satu patung berhala yang ditempatkan di pantai laut dari arah Al Musyallal (bukit yang memanjang sampai Qadid dari arah laut) di Qadid antara Makkah dan Madinah. Patung ini sangat diagungkan oleh suku Al Aus dan Al Khazraj. Dengan sebab itulah Allah turunkan firmanNya:

????? ???????? ????????????? ??? ????????? ????? ?????? ????? ????????? ???? ????????? ????? ??????? ???????? ??? ?????????? ??????? ????? ????????? ??????? ??????? ????? ??????? ???????

Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i di antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah :158).

Tentang hal ini dikisahkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam haditsnya yang berbunyi:

????? ???????? ???????? ????????? ?????? ?????? ??????? ???????? ????? ?????????? ?????? ?????? ???????? ????? ???????? ????????????? ???? ????????? ?????? ?????? ????? ????????? ???? ????????? ????? ??????? ???????? ???? ?????????? ??????? ??????? ????? ?????? ?????????? ??? ???????????? ??????? ?????? ???? ?????????? ?????????? ????????? ???????????? ??????? ??????? ?????????????? ?????? ???????????? ??????? ???? ??????? ??????????? ???? ??????? ?????????? ????????????? ???????? ?????????? ???????? ??????? ?????? ?????? ?????? ???????? ????????? ???? ?????? ??????? ??? ??????? ?????? ?????? ?????? ??????????? ???? ??????? ?????? ???????? ????????????? ?????????? ?????? ???????? ?????? ????????

Urwah berkata: Aku bertanya kepada Aisyah: bagaimana pendapat engkau tentang surat Al baqarah ayat 158. beliau menjawab: sesungguhnya ayat ini diturunkan pada orang Anshor, mereka dahulu sebelum masuk islam berihrom untuk thoghut Manaah yang mereka sembah di Al Musyallal. Maka orang yang berihrom disana maka tidak mau taowaf di Shafa dan marwa. Ketika mereka masuk islam, mereka bertanya kepada Rasulullah tentang hal itu, mereka berkata: wahai Rasulullah sesungguhnya kami enggan thawaf di shafa dan marwa, maka turunlah ayat ini. HR Al Bukhari dalam Shahihnya, kitab Al Hajj Bab Waujub Al Shofa Wal Marwa Wa Ja’luha Min Sya’airillah No. 1534.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Ali bin Abi Thalib radhyiallahu ‘anhu untuk menghancurkannya pada penaklukan kota Makkah. (Lihat: Mukhtashar Sirah Ar Rasul hlm 51-52)

7. Laata

Laata adalah kuburan orang shalih yang ada di Thaif yang dibangun dengan batu persegi empat, diberi bangunan oleh bani Tsaqif dan yang menjadi penjaganya dari bani Syaibaan dari suku Saliem. Bangsa Arab seluruhnya sangat mengagungkannya dan menamainya Zaid Al Laata atau Taim Al Laata dan sekarang tempatnya adalah di menara masjid Thaif. Ada yang mengatakan bahwa Laata adalah nama seorang yang membuat masakan Sawiiq untuk jamaah haji, lalu ia meninggal kemudian kuburannya disembah. Ketika bani Tsaqif masuk Islam maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Al Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu untuk menghancurkannya dan kuburan ini dibakar habis.

8. Al ‘Uzza

Al ‘Uzza adalah satu pohon yang disembah sebagai berhala. Ia lebih baru dari Al Laata, ditempatkan di Wadi Nakhlah di atas Dzatu ‘Irqin dan dibangun bangunan disekelilingnya. Mereka dulu mendengar suara keluar dari Al Uzza ini dan yang menjaga berasal dari bani mu’tib dari Tsaqif. Al Uzza ini sangat diagungkan Quraisy dan Kinaanah. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaklukan Makkah maka beliau mengutus Khalid bin Al Walid radiyallahu ‘anhu untuk menghancurkannya ternyata ada tiga pohon dan ketiak dirobohkan yang ketiga, tiba-tiba muncul wanita hitam berambut kusut dalam keadaan meletakkan kedua tangannya di bahunya menampakkan taringnya dan dibelakangnya ada juru kuncinya. Kemudian Kholid penggal lehernya dan pecah, ternyata ia adalah seekor merpati, lalu Kholid bin Al Walid membunuh juru kuncinya.

Ketiga berhala ini (Manaah, Al Uzza dan Al Laata) disebutkan dalam Al Qur’an dalam firmanNya:

?????????????? ???????? ??????????? ????????? ???????????? ??????????

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-Uzza,dan Manaah yang ketiga (QS.An Najm:19-20)

9. Hubal

Hubal adalah patung yang paling besar di ka’bah yang disimpan di tengah ka’bah. patung ini terbuat dari batu ‘aqiq merah dalam bentuk manusia dibawa Amru bin Luhai dari Syam. Patung inilah yang dikatakan Abu Sufyaan ketika selesai perang Uhud:

????? ?????? ??????? ?????????? ?????? ????? ???????? ????????? ?????????? ??????? ??? ??????? ????? ??????? ????? ??????? ????????? ????? ????? ????????? ????? ????????? ????? ?????? ?????? ??????? ?????????? ?????? ?????? ???????? ????????? ?????????? ??????? ??? ??????? ????? ??????? ????? ?????????? ????? ??????? ?????? ????? ????? ????????? ?????? ???????? ?????? ??????????? ???????

Hubal yang jaya, maka Rasulullah berkata: ‘Jawablah oleh kalian!’ maka mereka menjawab: ‘Apa yang kami akan katakan?’ beliau berkata: ‘Katakan; ‘Allah maha tinggi dan agung’ Abu Sufyan berkata lagi: ‘Kami memiliki Al Uzza dan kalian tidak memiliki Uzza’. Maka Rasulullah menyatakan: ‘Jawablah!’ mereka menyatakan: ‘Apa yang kami akan katakana?’ Rasulullah menyatakan: ‘katakanlah: ‘Allah adalah maula kami dan kalian tidak punya maula’. Lalu Abu Sufyan berkata: ‘ Hari ini pembalasan hari Badr dan peperangan akan terus berlanjut. HR Al Bukhari dalam Shahihnya Kitab Al Maghazi, Bab Ghazwah Uhud No.3737.

10. Isaaf dan Naailah

Dua patung berhala yang ada di dekat sumur Zamzam. Dua patung ini berasal dari sepasang orang Jurhum yang masuk ke Ka’bah dan berbuat fujur, lalu dikutuk menjadi dua batu, lama kelamaan keduannya disembah. Aisyah berkata:

?? ??????? ???????? ????? ???????? ?? ????????? ?????? ??????? ?? ????????? ???? ???????? ????????? ???? ??????????? ????????????? ???? ??????????

Kami senantiasa ingat bahwa Isaaf dan Naailah adalah laki-laki dan wanita dari Jurhum berbuat dosa di Ka’bah lalu Allah rubah mereka menjadi dua batu. HR Ibnu Ishaaq dengan sanad yang Hasan lihat Siroh Ibnu Hisyam 1/127 dinukil dari As Sirah An Nabawiyah Fi Dhu’ie Al Mashadir Al Ashliyah, hlm 67.

11. ‘Am Anas atau ‘Amiya Anas

Ini adalah berhala bani Khaulaan. Mereka membagi-bagi hasil ternak dan pertaniannya menjadi dua bagian; sebagian untuk Allah dan sebagian untuk berhalanya ini, sehingga Allah turunkan firmanNya:

?????????? ???? ?????? ?????? ???? ????????? ?????????????? ???????? ????????? ????? ???? ???????????? ??????? ?????????????? ?????????? ??????????????? ??????????? ????? ????? ?????????? ???? ?????? ?????? ????? ????????????? ????? ??????????????

Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka:”ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka sajian-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan sajian-sajian yang diperuntukan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. (QS. Al An’aam 136)

12. Sa’ad

Ini adalah berhala milik bani Mulkaan bin Kinaanah.

13. Dzul Kholashah

Ini adalah berhala milik kabilah Khots’am, Bajilah dan Daus yang berada di Tubaalah daerah antara Makkah dan Yaman. Bentuknya rumah patung yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam katakan kepada Jarir bin Abdillah Al Bajali radhiyallahu ‘anhu :

????? ?????????? ???? ??? ??????????? ??????? ??????? ??? ???????? ???????? ???????? ?????????????? ????? ????????????? ??? ????????? ????????? ??????? ???? ???????? ????????? ????????? ?????? ????? ???????? ??? ???????? ????? ????????? ???????? ??? ??????? ?????? ???????? ?????? ??????????? ??? ??????? ??????? ?????????? ????????? ??????????? ???????? ?????????? ??????????? ????????? ??????????? ????????????

Bebaskanlah aku dari Dzul Kholashah. Dzul Kholashah adalah rumah berhala di Khots’am dinamai dengan nama ka’bah yamaniyah. Beliau berkata: Aku berangkat bersama 150 tentara berkuda dari suku Ahmas dan mereka adalah ahli penunggang kuda. Beliau berkata lagi: sedang aku tidak pandai mengendarai kuda perang, maka Rasulullah memukul dadaku sampai aku melihat bekas pukulannya di dadaku dan menyatakan: Ya Allah tetapkanlah ia dan jadikanlah ia dai yang memberi petunjuk dan mengambil petunjuk. Maka akupun berangkat dan menghancurkan serta membakarnya. Diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahihnya Kitab Al Jihad Wa Al Siyar Bab Harqu Al Dur Wa Al Nakhiil no 2797.

5. Al Hunafa’

Walaupun demikian meratanya paganisme dan keberhalaan di jaziroh Arab namun masih terdapat sedikit orang yang berada dalam agama yang hanif yang masih menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dan menunggu datangnya kenabian. Mereka ini dikenal dengan istilah Al Hanafiyun atau Al Hunafa’. Diantara mereka adalah Qiss bin Sa’idah Al Iyaadiy, Zaid bin ‘Amru bin Nufail, Waraqah bin Naufal, Umayah bin Abi Sholt, Abu Qais bin Abi Anas, Kholid bin Sinaan, Al Nabighoh Al Dzibyaaniy, Zuhair bin Abi Salma, Ka’ab bin Luai bin Gholib, Arbaab bin Ri’aab, penyair Suwaid bin Amir Al Mushtholiqie, As’ad Abu karb Al Himyarie, Wakie’ bin Salamah bin Zuhair Al Iyadie, Umair bin Haidab Al Juhanie, ‘Adi bin Zaid Al ‘Ibadie, Abu Qais Shurah bin Abu Anas Al Bukhorie, Saif bin Dzi Yazin Al Himyarie, Amir bin Al Thorb Al ‘Adwaanie, penyair Abdu Al Thoonijah bin Tsa’lab bin Wabrah bin Qudha’ah, ‘Alaaf bin Syihaab Al Tamiemie, AL Multamis bin Umayah Al Kinaanie, penyair Zuhair bin Abi Salmaa, Kholid bin Sinaan bin Ghaits Al ‘Abasie, Abdullah Al Qudhaa’ie, Ubaid bin Al Abrash Al Asadie, Utsman bin Al Huwairits, Amru bin ‘Abasah Al Sulamie, dan Aktsam bin Shoifibin Robaah. (Lihat As Sirah An Nabawiyah Fi Dhu’ie Al Mashadir Al Ashliyah hlm 72 dan 77).

Penulis: Kholid Syamhudi Lc

Kategori:Uncategorized

Permusuhan Islam Dan Yahudi Dalam Sejarah

Permusuhan Yahudi terhadap Islam sudah terkenal dan ada sejak dahulu kala. Dimulai sejak dakwah Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam dan mungkin juga sebelumnya bahkan sebelum kelahiran beliau. Hal ini mereka lakukan karena khawatir dari pengaruh dakwah islam yang akan menghancurkan impian dan rencana mereka.

Namun dewasa ini banyak usaha menciptakan opini bahwa permusuhan yahudi dan islam hanyalah sekedar perebutan tanah dan perbatasan Palestina dan wilayah sekitarnya, bukan permasalahan agama dan sejarah kelam permusuhan yang mengakar dalam diri mereka terhadap agama yang mulia ini.

Padahal pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan eksistensi, bukan persengkataan perbatasan. Musuh-musuh islam dan para pengikutnya yang bodoh terus berupaya membentuk opini bahwa hakekat pertarungan dengan Yahudi adalah sebatas pertarungan memperebutkan wilayah, persoalan pengungsi dan persoalan air. Dan bahwa persengketaan ini bisa berakhir dengan (diciptakannya suasana) hidup berdampingan secara damai, saling tukar pengungsi, perbaikan tingkat hidup masing-masing, penempatan wilayah tinggal mereka secara terpisah-pisah dan mendirikan sebuah Negara sekuler kecil yang lemah dibawah tekanan ujung-ujung tombak zionisme, yang kesemua itu (justru) menjadi pagar-pagar pengaman bagi Negara zionis. Mereka semua tidak mengerti bahwa pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan lama semenjak berdirinya Negara islam di Madinah dibawah kepemimpinan utusan Allah bagi alam semesta yaitu Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam.
Demikianlah permusuhan dan usaha mereka merusak Islam sejak berdirinya Negara islam bahkan sejak Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam. hijrah keMadinah sampai saat ini dan akan berlanjut terus. Walaupun tidak tertutup kemungkinan mereka punya usaha dan upaya memberantas islam sejak kelahiran beliau Shallallahu’alaihi Wasallam . hal ini dapat dilihat dalam pernyataan pendeta Buhairoh terhadap Abu Tholib dalam perjalanan dagang bersama beliau diwaktu kecil. Allah l telah jelas-jelas menerangkan permusuhan Yahudi dalam firmanNya:

????? ??? ????? ????? ????? ????? ?????? ?????? ??????

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”. (QS. 5:82)

Melihat demikian panjangnya sejarah dan banyaknya bentuk permusuhan Yahudi terhadap Islam dan Negara Islam, maka kami ringkas dalam 3 marhalah;

Marhalah pertama: Upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa awal perkembangan dakwah islam dan cara mereka dalam hal ini.

Diantara upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah islam dimasa-masa awal perkembangannya adalah:

  1. Pemboikotan (embargo) EkonomiKaum muslimin ketika awal perkembangan islam di Madinah sangat lemah perekonomiannya. Kaum muhajirin dating keMadinah tidak membawa harta mereka dan kaum Anshor yang menolong merekapun bukanlah pemegang peekonomian Madinah. Oleh karena itu Yahudi menggunakan kesempatan ini untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka dan melakukan embargo ekonomi.Para pemimpin Yahudi enggan membantu perekonomian kaum muslimin dan ini terjadi ketika Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam. mengutus Abu Bakar menemui para pemimpin Yahudi untuk meminjam dari mereka harta yang digunakan untuk membantu urusan beliau dan berwasiat untuk tidak berkata kasar dan tidak menyakiti mereka bila mereka tidak memberinya. Ketika Abu Bakar masuk Bait Al Midras (tempat ibadah mereka) mendapati mereka sedang berkumpul dipimpin oleh Fanhaash –tokoh besar bani Qainuqa’- yang merupakan salah satu ulama besar mereka didampingi seorang pendeta yahudi bernama Asy-ya’. Setelah Abu Bakar menyampaikan apa yang dibawanya dan memberikan surat Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam kepadanya. Maka ia membaca sampai habis dan berkata: Robb kalian butuh kami bantu! Tidak hanya sampai disini saja, bahkan merekapun enggan menunaikan kewajiban yang harus mereka bayar, seperti hutang, jual beli dan amanah kepada kaum muslimin. Berdalih bahwa hutang, jaul beli dan amanah tersebut adanya sebelum islam dan masuknya mereka dalam islam menghapus itu semua. Oleh karena itu Allah berfirman:??? ??? ?????? ?? ?? ????? ?????? ???? ???? ????? ?? ?? ????? ?????? ?? ???? ???? ??? ?? ??? ???? ????? ??? ????? ????? ??? ????? ?? ??????? ???? ??????? ??? ???? ????? ??? ??????

    Di antara Ahli Kitab ada orang yang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaranmereka mengatakan:”Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (QS. 3:75).

  2. Membangkitkan fitnah dan kebencian.Yahudi dalam upaya menghalangi dakwah islam menggunakan upaya menciptakan fitnah dan kebencian antar sesama kaum muslimin yang pernah ada dihati penduduk Madinah dari Aus dan Khodzraj pada masa jahiliyah. Sebagian orang yang baru masuk islam menerima ajakan Yahudi, namun dapat dipadamkan oleh Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam. diantaranya adalah kisah yang dibawakan Ibnu Hisyam dalam Siroh Ibnu Hisyam (2/588) ringkas kisahnya: Seorang Yahudi bernama Syaas bin Qais mengutus seorang pemuda Yahudi untuk duduk dan bermajlis bareng dengan kaum Anshor, kemudian mengingatkan mereka tentang kejadian perang Bu’ats hingga terjadi pertengkaran dan mereka keluar membawa senjata-senjata masing-masing. Lalu hal ini sampai pada Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam . maka beliau Shallallahu’alaihi Wasallam segera berangkat bersama para sahabat muhajirin menemui mereka dan bersabda:??? ??????? ?????????????? ?????? ??????????? ??????????????? ?? ????? ?????? ????????????
    ?????? ???? ????????? ????? ???????????? ?? ???????????? ???? ?? ?????? ???? ?????? ??????????????? ????????????????? ???? ???? ????????? ?? ??????? ?????? ????????????

    “Wahai kaum muslimin alangkah keterlaluannya kalian, apakah (kalian mengangkat) dakwah jahiliyah padahal aku ada diantara kalian setelah Allah tunjuki kalian kepada Islam dan muliakan kalian, memutus perkara Jahiliyah dan menyelamatkan kalian dari kekufuran dengan Islam serta menyatukan hati-hati kalian.”
    Lalu mereka sadar ini adalah godaan syetan dan tipu daya musuh mereka, sehingga mereka mengangis dan saling rangkul antara Aus dan Khodzroj. Lalu mereka pergi bersama Rasululloh n dengan patuh dan taat yang penuh. Lalu Allah turunkan firmanNya:

    ?? ?? ??? ?????? ?? ????? ?? ???? ???? ?? ??? ??????? ???? ????? ????? ??? ???? ????? ??? ??????

    Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan. Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan”. Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (QS. 3:99)

  3. Menyebarkan keraguan pada diri kaum musliminOrang Yahudi berusaha memasukkan keraguan dihati kaum muslimin yang masih lemah imannya dengan melontarkan syubhat-syubhat yang dapat menggoyahkan kepercayaan mereka terhadap islam. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya:????? ????? ?? ??? ?????? ????? ????? ???? ??? ????? ????? ??? ?????? ??????? ???? ????? ??????

    “Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran)”. (QS. 3:72)
    Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan pernyataan: Ini adalah tipu daya yang mereka inginkan untuk merancukan perkara agama islam kepada orang-orang yang lemah imannya. Mereka sepakat menampakkan keimanan di pagi hari (permulaan siang) dan sholat subuh bersama kaum muslimin. Lalu ketika diakhir siang hari (sore hari) mereka murtad dari agama Islam agar orang-orang bodoh menyatakan bahwa mereka keluat tidak lain karena adanya kekurangan dan aib dalam agama kaum muslimin.

  4. Memata-matai kaum MusliminIbnu Hisyam menjelaskan adanya sejumlah orang Yahudi yang memeluk Islam untuk memata-matai kaum muslimin dan menukilkan berita Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam. dan yang ingin beliau lakukan kepada orang Yahudi dan kaum musyrikin, diantaranya: Sa’ad bin Hanief, Zaid bin Al Lishthi, Nu’maan bin Aufa bin Amru dan Utsmaan bin Aufa serta Rafi’ bin Huraimila’. Untuk menghancurkan tipu daya ini Allah berfirman:?? ???? ????? ????? ?? ?????? ????? ?? ????? ?? ??????? ????? ???? ?? ???? ?? ??? ??????? ?? ??????? ??? ???? ?????? ???? ?? ???? ??? ?????? ?? ???? ?????? ?? ???? ????? ??????? ??? ??????? ??????? ??????? ??? ???? ????? ????? ???? ???? ???? ???? ????? ??????? ?? ????? ?? ????? ?????? ?? ???? ???? ???? ??????

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata:”Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka):”Marilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” (QS. 3:118-119).

  5. Usaha memfitnah Rasululloh Shallallahu’alaihi WasallamOrang Yahudi tidak pernah henti berusaha memfitnah Rasululloh n . diantaranya adalah kisah yang disampaikan Ibnu Ishaaq bahwa beliau berkata: Ka’ab bin Asad, Ibnu Shaluba, Abdullah bin Shurie dan Syaas bin Qais saling berembuk dan menghasilkan keputusan berangkat menemui Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam untuk memfitnah agama beliau. Lalu mereka menemui Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam. dan berkata: Wahai Muhammad engkau telah tahu kami adalah ulama dan tokoh terhormat serta pemimpin besar Yahudi, Apabila kami mengikutimu maka seluruh Yahudi akan ikut dan tidak akan menyelisihi kami. Sungguh antara kami dan sebagian kaum kami terjadi persengketaan. Apakah boleh kami berhukum kepadamu lalu engkau adili dengan memenangkan kami atas mereka? Maka Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam enggan menerimanya. Lalu turunlah firman Allah:??? ???? ????? ??? ???? ???? ??? ???? ??????? ??????? ?? ?????? ?? ??? ?? ???? ???? ???? ??? ????? ????? ???? ???? ???? ?? ?????? ???? ?????? ??? ????? ?? ????? ???????

    “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS. 5:49)

Semua usaha mereka ini gagal total dihadapan Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam. dan Allah membalas makar mereka ini dengan menimpakan kepada mereka kerendahan dan kehinaan.

Marhalah kedua: Masa perang senjata antara Yahudi dan Muslimin dizaman Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam

Orang Yahudi tidak cukup hanya membuat keonaran dan fitnah kepada kaum muslimin semata bahkan merekapun menampakkan diri bergabung dengan kaum musyrikin dengan menyatakan permusuhan yang terang-terangan terhadap islam dan kaum muslimin. Namun Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam. tetap menunggu sampai mereka melanggar dan membatalkan perjanjian yang pernah dibuat diMadinah. Ketika mereka melanggar perjanjian tersebut barulah Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam melakukan tindakan militer untuk menghadapi mereka dan mengambil beberapa keputusan untuk memberikan pelajaran kepada mereka. Diantara keputusan penting tersebut adalah:

  1. Pengusiran Bani Qainuqa’
  2. Pengusiran bani Al Nadhir
  3. Perang Bani Quraidzoh
  4. Penaklukan kota Khaibar.

Setelah terjadinya hal tersebut maka orang Yahudi terusir dari jaziroh Arab.

Marhalah ketiga: Tipu daya dan makar mereka terhadap islam setelah wafat Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam .

Orang Yahudi memandang tidak mungkin melawan islam dan kaum muslimin selama Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam masih hidup. Ketika Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam. wafat orang Yahudi melihat adanya kesempatan untuk membuat makar kembali terhadap Islam dan muslimin. Mereka mulai merencanakan dan menjalankan tipu daya mereka untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya. Namun tentunya mereka lakukan dengan lebih baik dan teliti dibanding sebelumnya. Sebagian target mereka telah terwujud dengan beberapa sebab diantaranya:

  1. Kaum muslimin kehilangan Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam.
  2. Orang Yahudi dapat mengambil pelajaran dan pengalaman dari usaha-usaha mereka terdahulu sehingga dapat menambah hebat makar dan tipu daya mereka.
  3. Masuknya sebagian orang Yahudi kedalam Islam dengan tujuan memata-matai kaum muslimin dan merusak mereka dari dalam tubuh kaum muslimin.

Memang berbicara tentang tipu daya dan makar Yahudi kepada kaum Muslimin sejak wafat Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam hingga kini membutuhkan pembahasan yang panjang sekali. Namun rasanya cukup memberikan 3 contoh kejadian besar dalam sejarah Islam untuk mengungkapkan permasalahan ini. Yaitu:

  1. Fitnah pembunuhan kholifah Utsman Ini adalah awal keberhasilan Yahudi dalam menyusup dan merusak Islam dan kaum muslimin. Tokoh yahudi yang bertanggung jawab terjadinya peristiwa ini adalah Abdullah bin Saba’ yang dikenal dengan Ibnu Sauda’. Kisahnya cukup masyhur dan ditulis dalam kitab-kitab sejarah Islam.
  2. Fitnah Maimun Al Qadaah dan perkembangan sekte BathiniyahKeberhasilan Abdullah bin Saba’ membuat fitnah dikalangan kaum Muslimin dan mengajarkan saba’isme membuat orang Yahudi semakin berani. Sehingga belum habis fitnah Sabaiyah mereka sudah memunculkan tipu daya baru yang dipimpin seorang Yahudi bernama Maimun bin Dieshaan Al Qadaah dengan membuat sekte Batiniyah di Kufah tahun 276 H.Imam Al Baghdadi menceritakan: Diatara orang yang membangun sekte Bathiniyah adalah Maimun bin Dieshaan yang dikenal dengan Al Qadaah seorang maula bagi Ja’far bin Muhammad Al Shodiq yang berasal dari daerah Al Ahwaaz dan Muhammad bin Al Husein yang dikenal dengan Dandaan. Mereka berkumpul bersama Maimun Al Qadah di penjara Iraaq lalu membangun sekte Bathiniyah.Tipu daya Yahudi ini terus berjalan dalam bentuk yang beraneka ragam sehingga sekte ini berkembang menjadi banyak sekali sektenya dalam kaum muslimin, sampai-sampai menghalalkan pernikahan sesama mahrom dan hilangnya kewajiban syariat pada seseorang.
  3. Penghancuran kekhilafahan Turki Utsmani ditangan gerakan Masoniyah dan akibat yang ditimbulkan berupa perpecahan kaum muslimin.Orang Yahudi mengetahui sumber kekuatan kaum muslimin adaalh bersatunya mereka dibawah satu kepemimpinan dalam naungan kekhilafahan Islamiyah. Oleh karena mereka segera berusaha keras meruntuhkan kekhilafahan yang ada sejak zaman Khulafa’ rosidin sampai berhasil menghapus dan meruntuhkan negara Turki Utsmaniyah.Orang Yahudi memulai konspirasinya dalam meruntuhkan Negara turki utsmaniyah pada masa sultan Murad kedua (tahun 834-855H) dan setelah beliau pada masa sultan Muhammad Al Faatih (tahun 855-886H) yang meningal diracun oleh Thobib beliau seorang Yahudi bernama Ya’qub Basya. Demikian juga berhasil membunuh Sultan Sulaiman Al Qanuni (tahun 926-974H) dan para cucunya yang diatur oleh seorang Yahudi bernama Nurbaanu. Konspirasi Yahudi ini terus berlangsung di masa kekhilafahan Utsmaniyah lebih dari 400 tahunan hingga runtuhnya ditangan Mushthofa Kamaal AtaaTuruk.

Orang Yahudi dalam menjalankan rencana tipu daya mereka menggunakan kekuatan berikut ini:

  1. Yahudi Al Dunamah. Diantara tokohnya adalah Madhaat Basya dan Mushthofa Kamal Ataturk yang memiliki peran besar dan penting dalam penghancuran kekhilafahan Utsmaniyah.
  2. Salibis eropa yang sangat membenci islam dan kaum muslimin dengan melakukan perjanjian kerjasama dengan beberapa Negara eropa yaitu Bulgaria, Rumania, Namsa, Prancis, Rusia, Yunani dan Italia.
  3. Organisasi bawah tanah /rahasia, khususnya Masoniyah yang terus berusaha merealisasikan tujuan dan target Zionis.

Usaha-usaha Musthofa Kamal Basya Ataturk dalam menghancurkan kekhilafahan setelah berhasil menyingkirkan sultan Abdulhamid kedua adalah:

  1. Pada awal November 1922 M ia menghapus kesultanan dan membiarkan kekhilafahan
  2. Pada tanggal 18 November 1922M ia mencopot Wahieduddin Muhammad keenam dari kekhilafahan.
  3. Pada Agustus 1923 M ia mendirikan Hizb Al Sya’b Al Jumhuriah (Partai Rakyat Republik) dengan tokoh-tokoh pentingnya kebanyakan dari Yahudi Al Dunamah dan Masoniyah.
  4. Pada tanggal 20 oktober 1923 M Republik Turki diresmikan dan Al Jum’iyah Al Wathoniyah (Organisasi nasional) memilih Musthofa Kamal sebagai presiden Turki.
  5. Pada tanggal 2 Maret 1924 M Kekhilafahan dihapus total.

Demikianlah sempurna sudah keinginan orang-orang Yahudi untuk menjadikan kekhilafahan sebagai Negara sekuler yang dipimpin seorang Yahudi yang berkedok muslim.

Mudah-mudahan ringkas sejarah permusuhan Yahudi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi pelajaran bagi kaum muslimin.

Penulis: Ustadz Khalid Syamhudi, Lc.

Kategori:Tak Berkategori